Ini Saran BPPT Terkait Adanya Potensi Tsunami di NYIA

Ilustrasi Sri Sultan HB X (kiri) mendengarkan pemaparan progres pembangunan NYIA dalam peninjauan di lokasi bandara NYIA, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (8/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
11 Februari 2019 19:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko, mengungkapkan untuk potensi Tsunami dikawasan bandara NYIA memang ada, karena adanya Megathrust di kawasan selatan Jawa.

Dikatakan Widjojo berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kemungkinan potensi hingga 8,8 Magnitudo dan membuat Tsunami hingga ketinggian 15 meter di kawasan pantai.

Menurut Widjojo di Selatan Jawa setidaknya ada tiga Megathrust yaitu pertama, Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah, kedua Jawa Tengah-Jawa Timur, ketiga Megathrust dibawah Bali-Sumba.

“Masing-masing bisa 8,8 sampai 9 Magnitudo. Paling dekat itu [dengan NYIA], tapi paling bawah benar-benar dibawah itu ya yang Jawa Tengah-Jawa Timur. Kalau se Indonesia ada 13 Megathrust,” ucapnya kepada Harian Jogja.

Diungkapkannya potensi tsunami itu juga terlihat dari sejarah terdahulu, berdasarkan kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tsunami purba pernah terjadi di pesisir selatan Indonesia, beberapa kali seperti 400 tahunlalu, 1.000 tahun yang lalu, dan 1.600 tahun lalu.

Dikatakannya yang terjadi besar 400 tahun lalu. Berdasarkan penelitian itu diketahui jejak Tsunami dalam kurun waktu yang sama sepanjang Lebak hingga Bali, dengan sedimen 1,5 kilometer. “Kemungkinan ya 8,5-9 Magnitudo,” ucapnya.

Dengan berbagai hasil penelitian ahli, sejarah dan bukti-bukti dari babad, ia meyakini bahwa potensi Tsunami itu ada. Tinggal terpenting bagaimana mitigasi yang terbaik untuk meminimalisir jika suatu saat benar terjadi.

Dikatakannya dengan adanya NYIA tersebut sebagai magnet, akan tumbuh infrastruktur, bangunan lainnya. Disarankannya Pemda dapat mengontrol hal tersebut. "Termasuk dalam alat peringatan dini harus disiapkan termasuk kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi suatu bencana, masyarakat harus benar-benar dilatih dalam hal mitigasi penyelematan diri," katanya.