Pusat Krisis dan 10.000 Cemara Udang di Selatan NYIA Jadi Benteng Hadapi Tsunami

Ilustrasi Kepala Pusat Seismologi BMKG, Jaya Murjaya menyampaikan materi dalam workshop Potensi Bahaya Gempa Bumi & Tsunami di Bandara Kulonprogo (NYIA) dan Metode Mitigasinya di gedung University Club (UC) UGM, Yogyakarta, Selasa (29/08/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto.
11 Februari 2019 20:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Berbagai pihak terus melakukan pembahasan terkait upaya mitigasi yang dilakukan terhadap potensi tsunami di Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Salah satunya rencana menanam 10.000 cemara udang yang diharapkan bisa menjadi benteng ketika sewaktu-waktu terjadi tsunami.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulonprogo, Agus Langgeng Basuki mengatakan sampai saat ini proses yang dilakukan terhadap upaya mitigasi potensi bencana di Bandara NYIA masih dalam pembahasan. "Kami masih dalam tahap pembahasan di tiga pihak, Pemkab Kulonprogo, pihak Angkasa Pura I, sama pemilik tanah dalam hal ini Pakualaman, draftnya belum difinalkan," ujar Agus pada Harian Jogja, Jumat (8/2/2019).

Ia mengatakan rencananya langkah mitigasi yang akan diambil guna menghadapi potensi tsunami tersebut salah satunya penanaman pohon cemara udang di Selatan Bandara NYIA. Pohon tersebut akan ditanami dan menjadi barrier bagi tsunami sepanjang empat kilometer di Selatan Bandara NYIA.

"Kami hanya perkiraan saja, akan dipersiapkan 10.000 pohon cemara udang untuk ditanami di Selatan Bandara NYIA," ungkap Agus.

Pihaknya mengaku masih terus melakukan kordinasi terutama dengan pihak Angkasa Pura I dalam melakukan upaya mitigasi bencana tersebut.

Sebelumnya, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan, selain dengan penanaman pohon cemara udang di Selatan Bandara NYIA, pihak Pemkab juga akan membuat sebuah pusat krisis. "Pusat krisis akan disiapkan sebagai upaya mitigasi juga, nantinya ada di kawasan bandara, ini ditujukan untuk pemulihan trauma akibat bencana tsunami maupun gempa," ujar Hasto.

Pihaknya menargetkan berbagai dokumen seperti masterplan dan Detail Engineering Desain (DED) bisa digarap tahun ini, sehingga ditargetkan proyek mitigasi potensi bencana di Bandara NYIA akan rampung di 2020.

Upaya pembuatan barrier untuk mitigasi bencana di Selatan Bandara NYIA akan memakan lahan yang saat ini digunakan oleh para petambak udang. Lahan yang digunakan petambak udang merupakan lahan milik Pakualaman Grond.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna mengatakan, pihaknya merencanakan pengosongan lahan tersebut di Maret. Rencananya petambak udang tersebut akan dipindah ke Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur.

"Saat ini masih dalam tahap sosialisasi ke petambak. Sosialisasi diberikan agar petambak bisa mempersiapkan, mulai dari tebar benih atau kegiatan lainnya supaya menyesuaikan waktu," jelas Sudarna.

Salah satu petambak udang di Dusun Glagah, Desa Glagah, Temon, Supangadi mengaku pihaknya sudah diberikan sosialisasi dari Pemkab Kulonprogo guna pengosongan lahan yang ia pakai untuk menambak udang. "Sudah ada sosialisasi, harapannya jadi dipindah, meski dipindah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit," kata Supangadi.

Menurutnya, di sepanjang Selatan Bandara NYIA, ada sekitar 300-an petambak udang. Lahan yang mereka gunakan merupakan lahan Pakualaman. Pihaknya juga sedang mempersiapkan masa panen agar saat pengosongan tidak terlalu merugi.