Bantul Rawan Bencana, Cuma Segini Dana yang Disiapkan

Kondisi bangunan usai diterjang puting beliung di Jogja, Selasa (24/4/2018). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
10 Maret 2019 15:20 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul tahun ini hanya memiliki dana cadangan untuk penanggulangan kebencanan sebesar Rp100 juta. Padahal potensi bencana hidrometeorologi masih mengancam wilayah Bantul.

Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto menyadari minimnya dana cadangan penanggulangan bencana tahun ini. Dia mengaku tak bisa berbuat banyak karena harus menyesuaikan dengan kondisi APBD Bantul.

Dengan begitu, kata dia mutlak diperlukan prioritas penanganan korban bencana alam. "Dana cadangan ini utamanya untuk logistik dan bahan bangunan," kata Dwi kepada Harianjogja.com, Minggu (10/3/2019).

Logistik yang dimaksud Dwi adalah kebutuhan konsumsi selama proses penanganan bencana. Sementara bahan bangunan untuk memperbaiki jika ada rumah warga yang rusak akibat terkena bencana.

Meski demikian, dia mengaku bersyukur budaya gotong royong di Bantul masih cukup tinggi. Hal itu diakuinya sangat memudahkan proses penanganan dampak bencana alam.

Dana Tak Terduga

Walaupun dana cadangan terbilang kecil, Pemkab Bantul, kata dia, tak bisa dikatakan tidak peduli dalam penanganan bencana. Menurut dia Pemkab Bantul masih memiliki dana tidak terduga yang sewaktu-waktu bisa diunakan dalam kondisi darurat, termasuk bencana yang membutuhkan penanganan ekstra, misalnya kejadian Badai Cempaka pada November 2017 lalu.

Sejauh ini diakuinya potensi bencana hidrometeorologi di Bantul belum memaksa untuk mengakses dana tidak terduga, "Kalau sudah tidak teratasi, baru kami akan mengajukan data tidak terduga. Karena data tidak terduga tidak sembarangan digunakan," ujar Dwi.

Diketahui dana tidak terduga dalam APBD Bantul 2019 terdapat sekitar Rp20 miliar. Dari jumlah tersebut Rp11,6 di antaranya adalah pengembalian dari hibah Persiba Bantul yang sampai saat ini masih diersoalkan.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Djoko Budiono mengatakan prediksi iklim selama Maret ini wilayah DIY masih dalam kondisi musim hujan dengan rata-rata intenitas hujan mencaai di atas 300 milimeter per bulan. Kondisi hujan sedang sampai lebat juga disertai petir dan angin kencan. Hujan terjadi umumnya di siang dan sore hari. "Ini terjadi karena secara dinamika atmosfer dan laut masih mendukun bagi embentukan awan-awan yang bisa menyebabkan hujan di wilayah DIY," kata Djoko.

Karena itu Djoko mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca ekstrim yang menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan petir.