Glukoma Harus Jadi Perhatian Lebih

Divisi Oftalmologi Komunitas, RSUP Dr Sardjito, Prof. Suhardjo (kanan) dan Divisi Glaukoma, RSUP Dr Sardjito, Tatang Talka Gani (kiri) saat jumpa pers, Kamis (14/3 - 2019).IST
15 Maret 2019 11:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Penyakit glukoma menjadi penyakit ketiga yang paling banyak menyebabkan kebutaan. Namun masih banyak ditemui kendala dalam pencegahan.

Divisi Oftalmologi Komunitas RSUP Dr Sardjito Prof. Suhardjo mengungkapkan penglihatanadalah indra yang penting bagi manusia. Hilangnya penglihatan dapat berakibat kehilangan kemampuan bekerja dan penurunan tingkat kemandirian hidup.

“Glukoma merupakan kondisi yang mempunyai ciri khas rusaknya saraf optik dan hilangnya lapang pandang serta tidak disadari oleh penderita, sehingga penyakit ini sering disebut sebagai pencuri penglihatan,” jelas Suhardjo, Kamis (14/3/2019).

Pada 2020 diperkirakan secara global akan terdapat sekitar 80 juta penduduk dunia menderita glaukoma. Sebanyak tiga juta orang akan menderita kebutaan total dan empat juta orang akan menderita kelainan penglihatan sedang sampai berat karena penyakit ini.

Kebutaan karena glaukoma dapat dicegah dengan pengobatan dan pemeriksaan yang tepat dan berkala. Kebanyakan pasien glaukoma datang memeriksakan diri ketika penglihatan telah hilang atau pun telah rusak berat, sehingga penyakit ini dikategorikan sebagai neglected eye disease atau penyakit mata yang terabaikan.Sebanyak 50% penderita glaukoma tidak terdiagnosa di negara maju dan angka ini mencapai sebanyak 90% pada negara berkembang.

Divisi Glaukoma RSUP Dr Sardjito Tatang Talka Gani mengatakan sebagai salah satu upaya mengurangi angka kebutaan karena glaucoma, akan diselenggarakan acara Pekan Glaukoma Dunia yang jatuh pada Minggu (10/3/2019)-Sabtu (16/3/2019). Acara ini didukung Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dan RSUP Dr Sardjito.

“Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengadakan sosialisasi di poli mata RS dan pemeriksaan mata gratis pada acara Sardjito Fair di Jalan Mangkubumi pada Minggu [17/3/2019] pukul 06.00 WIB-10.00 WIB,” ujarnya.

Dikatakan dia, tanpa ada pengobatan dari populasi yang berisiko glaukoma, penyakit ini akan tetap menjadi penyebab kebutaan yang tinggi. Kelompok berisiko terkena glaukoma adalah mereka yang mempunyai keluarga dekat yang menderita glaukoma, penderita miopia atau mata minus, pengguna obat steroid, penderita kelainan sirkulasi darah, dan diabetes melitus.

“Dengan pekan glaukoma ini, diharapkan masyarakat bisa Iebih mengetahui tentang bahaya gIaukoma serta dapat memeriksakan kondisi matanya untuk risiko glaukoma. Peran serta aktif dari masyarakat akan membantu program pemerintah dan upaya dunia untuk mengurangi angka kebutaan karena penyakit ini,” jelas dia.