Polres Sleman Masih Buru 5 Orang dalam Kasus Pembakaran Bus di Jl. Wates

Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggaito Hadi (tengah) didampingi Kasubbag Humas Polres Sleman Iptu Edy Widaryanta (kiri) saat memperlihatkan barang bukti kepada wartawan, Kamis (21/3/2019) di Mapolres Sleman. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
21 Maret 2019 18:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Polres Sleman sudah menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus pembakaran bus di Jl. Wates Km.7 tepat di depan Kelurahan Balecatur, Gamping, Sleman, Rabu (13/3/2019) lalu. Polisi masih menyelidiki bagaimana bus tersebut dibakar dan memburu para pembakar. Pasalnya, keempat pelaku mengaku hanya merusak.

“Ini akan kami kembangkan lagi, karena perusakan bus tersebut tidak mungkin dilakukan oleh empat orang ini,” kata Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Anggaito Hadi, Kamis (21/3/2019).

Menurut dia, ada lima orang yang masih diburu dan akan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena diduga membakar bus.

“Masih ada pelaku lain yang kami cari, dari keterangan keempat orang ini, ada lima orang lagi yang kami cari dan akan kami terbitkan DPO,” ujar Anggaito.

Polisi menyita barang bukti berupa batu dan pipa besi yang dipakai empat tersangka untuk merusak bus. Keempat ditahan di Mapolres Sleman dan  dijerat Pasal 170 KUHP atau Pasal 406 KUHP.

“Jadi kalau ada masyakarat yang tahu, bisa sampaikan ke kami, karena ada perlindungan saksi dan korban. Yang kami tekankan adalah tindakan main hakim sendiri itu bisa diproses hukum dan tidak dibenarkan.”

Keempat orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka perusakan bus berinisial YS, 46, MRJ, 33, TW, 37 dan YTM, 44. Mereka semua warga Balecatur, Gamping, Sleman.

“Dari hasil penyelidikan dan olah TKP, kami dapatkan identitas, dan kami lakukan penangkapan, sementara, kami berhasil menangkap empat pelaku pada Selasa [19/3/2019] lalu. Keempatnya tersangka,” kata Anggaito.

Salah satu tersangka mengaku merusak bus lantaran emosi.

MRJ, dari empat perusak bus yang sudah diciduk polisi, mengaku tindakannya tidak direncanakan.

“Ya saya spontan, melakukan perusakan, emosi sesaat,” ujar MRJ di Mapolres Sleman, Kamis (21/3/2019).

Kasat Reskrim Anggaito mengatakan keempat tersangka memiliki peran yang berbeda, mulai dari melempari bus dengan batu, memukul bus dengan tongkat besi dan mencongkel pintu bagasi.

“Ini akan kami kembangkan lagi, karena perusakan bus tersebut tidak mungkin dilakukan oleh empat orang ini,” ujar Anggaito.

Polres Sleman juga menetapkan sopir bus sebagai tersangka.

“Dijerat Undang-Undang Lalu Lintas, sedangkan korban yang ditabrak masih dirawat di rumah sakit,” kata Anggaito.

Bus Antar Jaya dibakar massa yang tersulut emosi di Jl. Wates Km.7, di depan Kelurahan Balecatur, Gamping, Sleman, Rabu (13/3/2019) malam. Bus tersebut dibakar lantaran bertabrakan dengan sepeda motor.

Beberapa saat setelah tabrakan, beredar kabar di grup perpesanan dan medsos yang menyebut pengendara sepeda motor yang tertabrak bus Antar Jaya meninggal dunia. Ternyata, korban tabrakan masih hidup, tetapi mengalami luka berat.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah mengatakan korban tabrakan bernama Wahyu Cahyono, 37, warga Pasekan Kidul, Balecatur. Rabu pukul 18.00 WIB, dia melaju di Jl. Wates dari arah barat. Sesampainya di depan Kelurahan Balecatur, Wahyu hendak belok ke kanan. Namun, di belakangnya melaju  bus Antar Jaya bernomor polisi AD 1644 CF jurusan Purwokerto-Solo yang dikemudikan oleh Joko Sundarto, 57, warga Karanganyar, Jawa Tengah.

Bodi depan bus tersebut menyenggol sepeda motor Wahyu sehingga Wahyu kemudian jatuh terpental.

“Pengendara motor jatuh dan menderita luka berat di bagian kepala dan patah tulang kaki kanan. Dia tidak memakai helm, dan sepeda motor yang dia kendarai tidak ada lampu belakangnya,” ujar Rizky.

Wahyu kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Bethesda.

Sementara, Joko menghentikan bus setelah menabrak sepeda motor Wahyu. Namun, massa yang sudah ramai kemudian merangsek ke dalam bus dan meminta penumpang untuk turun. Tak lama setelah itu, bus pun sudah terbakar. “Sopir bus menyelamatkan diri ke Mapolsek Gamping yang tidak jauh dari lokasi kejadian, sedangkan kernet bus menyelamatkan diri ke Mapolsek Sedayu,” ujar Rizky.

Salah seorang saksi mata Rina, mengatakan pada saat kejadian, ia sedang berjualan di sekitar lokasi kejadian.

“Saya sedang jualan, tiba-tiba massa sudah banyak, yang saya lihat di dalam bus ada orang, tetapi langsung keluar waktu massa ramai. Saya juga langsung lari, karena takut,” ujar dia.