Revalidasi UNESCO Batal, Pengelola Watu Payung Tetap Optimistis

Ketua Pokdarwis Sidomulyo memegang batu yang berbentuk seperti payung di kawasan Geoforest Watu Payung, Jumat (29/3/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
29 Maret 2019 20:47 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULPerwakilan dari UNESCO, Profesor Emeritus Dato Ibrahim Komoo, batal ke Geoforest Watu Payung di Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang. Meski revalidasi batal, pengelola optimistis objek wisata Watu Payung lolos sebagai kawasan geopark.

Professor Emeritus Dato Ibrahim Komoo merupakan mantan Presiden Asia Pacific Geoparks Network (APGN). Sebelumnya, dia telah mengunjungi Gunung Api Purba Nglanggeran pada Minggu (24/3/2019). Dia ditunjuk sebagai pembimbing soal Geopark.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul, Harry Sukmono, mengatakan ia belum mengetahui terkait dengan batalnya kunjungan ke Geoforest Watu Payung. Menurutnya, kini Dinpar menyiapkan berbagai syarat untuk revalidasi dari UNESCO. "Persiapannya cukup banyak karena tidak hanya satu objek wisata yang dikaji menjadi geopark," ujarnya, Jumat (29/3/2019).

Harry menyatakan potensi pengembangan kawasan geopark dengan keanekaragaman geologi, hayati, serta budaya diharapkan menimbulkan multiplier effect. "Efeknya adalah mengedukasi masyarakat, bertambah baiknya kondisi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Ketua Pokdarwis Sidomulyo Watu Payung, Iwan Saputra, mengungkapkan objek wisata yang dikelola masuk dalam landscape karst di Gunungkidul. Dinpar beberapa kali menggelar survei di Watu Payung. "Survei dilakukan untuk memastikan apakah objek wisata ini masuk dalam kategori geopark atau tidak," kata Iwan kepada Harian Jogja, Jumat.

Iwan menyatakan, dilihat dari jenis batuan kapur dan fosil-fosil binatang laut yang pernah ditemukan, Watu Payung sebelumnya adalah dasar laut. Dengan begitu, ia yakin akan kembali lolos menjadi kawasan geopark pada tahun ini. "Watu Payung ditetapkan menjadi kawasan geopark pada 2014 silam, rencananya pada Juni 2019 ada revalidasi lagi dari UNESCO," katanya.

Terkait dengan persiapan yang dilakukan, Pokdarwis Sidomulyo, menurut Iwan, menyiapkan pelestarian konservasi alam, mengurangi pembangunan yang memakai semen dan menyiapkan museum tempat fosil-fosil binatang laut. Luas hutan di Watu Payung yang dikelola oleh Pokdarwis Sidomulyo saat ini mencapai 14,7 hektare.