Pemda DIY Kaji Pembangunan Grosir Pangan

Foto ilustrasi. Petugas mengecek stok beras di kawasan pergudangan Bulog, Purwomartani, Kalasan, Jumat (21/12/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
13 April 2019 13:57 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Panjangnya rantai distribusi pangan dari produsen ke konsumen membuat harga di tingkat konsumen semakin tinggi. Sebaliknya, harga yang didapat produsen sangat kecil. Untuk mengatasi persoalan ini, Pemda DIY mengkaji pembangunan grosir pangan DIY.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, mengatakan jika dihitung ada sembilan titik rantai distribusi dalam penyaluran komoditas dari produsen hingga konsumen. Rantai distribusi ini terlalu panjang dan merugikan baik produsen maupun konsumen.

 "Pembangunan Grosir Pangan DIY masih dikaji. Kami masih butuh referensi. Kami prioritaskan akses ke pedagang kecil dan akan ada pembatasan per hari mereka bisa ambil berapa. Tujuannya untuk memotong rantai distribusi yang panjang. Kalau bisa nanti ada pusat grosir di setiap kabupaten dan kota," kata Dwi Panti ketika ditemui di Gedung Bappeda DIY, Kota Jogja, Rabu (10/4/2019).

Dalam perencanaan yang disusun, seluruh barang di pusat grosir akan didatangkan langsung dari produsen. Namun, untuk mewujudkan hal itu perlu kajian yang mendalam untuk menyiapkan bahan, potensi, dan apakah mungkin diwujudkan. Jika lancar dan mendapatkan persetujuan, tidak menutup kemungkinan rencana ini bisa diwujudkan pada 2021. "Kami juga melihat lokasi yang cocok di mana dan status kelembagaan seperti apa," kata dia.

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kestabilan pangan adalah sarana distribusi atau pengangkutan. Menurutnya, persoalan kestabilan bahan pangan tak hanya di sisi stok, tetapi juga dari sisi angkutan.

"Kami ingin memudahkan masyarakat. Ketika banyak membangun titik pusat ekonomi masyarakat seperti rumah pangan kita, saya kira akan lebih memudahkan. Kami ingin tata hulu dan hilir," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Aries Riyanta, mengatakan kestabilan bahan pangan dan harga juga menjadi perhatian utama. Untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan, Disperindag bekerja sama dengan Bulog menggelar pasar murah di halaman Disperindag DIY setiap Jumat.

"Pasar murah kami gelar setiap Jumat. Kami berharap upaya ini bisa membantu untuk mengendalikan harga. Akan ada operasi pasar juga tetapi tergantung kondisi di lapangan," tutur dia.