Akademisi Jogja Ajak Masyarakat Kawal Pemilu

Rektor dan civitas academica dari berbagai perguruan tinggi di DIY serta perwakilan dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkominda), KPU, dan Bawaslu mendeklarasikan seruan moral agar pemilu berjalan damai, jujur dan adil di Halaman Balairung UGM, Senin (15/4/2019). - IST/Humas UGM
15 April 2019 20:42 WIB Laila Rochmatin Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Menyikapi dinamika politik yang berkembang menjelang pemilu 17 April, rektor dan civitas academica dari berbagai perguruan tinggi di DIY serta perwakilan dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkominda), KPU, dan Bawaslu mendeklarasikan seruan moral untuk penyelenggaraan pemilu yang jujur, adil dan damai.

“Pelaksanaan pemilu tinggal dua hari lagi, mudah-mudahan akan berjalan lancar dan dapat dipercaya dan hasilnya harus kita hormati bersama,” kata Rektor UGM Prof. Panut Mulyono dalam sambutannya, Senin (15/4/2019).

Pernyataan bersama untuk pemilu berintegritas dan bermartabat berjudul Pemilu Jurdil dan Damai: Awasi Prosesnya, Hormati Hasilnya dibacakan Panut di Halaman Balairung UGM.

“Pemilu yang berjalan jujur dan adil akan menghasilkan pemerintahan yang memiliki legitimasi kuat di mata rakyat,” kata Panut mengawali deklarasi.
Pemilu, lanjut dia, merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus diletakkan dalam konteks pelaksanaan demokrasi guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Ia menambahkan upaya untuk mencapai kemenangan dalam pemilu, serta untuk mewujudkan hak setiap orang untuk mendukung kandidat dalam pemilu, tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang mengorbankan keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang majemuk.

“Kami mengajak seluruh komponen bangsa untuk berpolitik dan berdemokrasi secara bermartabat, menjaga proses pemilu agar berjalan secara jujur, adil, dan damai,” kata dia.

Pernyataan bersama ini mencakup beberapa poin ajakan bagi masyarakat, di antaranya untuk secara aktif mencegah politik uang, turut membatasi beredarnya informasi bohong yang bisa mendistorsi pandangan publik, serta memastikan semua pemilih bisa memberikan hak suaranya secara aman tanpa intimidasi dalam bentuk apapun baik langsung maupun tidak langsung.

Masyarakat juga didorong untuk secara aktif menggunakan hak pilih sebagai ekspresi kedaulatan rakyat, mengawal tegaknya netralitas penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu), aparatur sipil negara (ASN), kepolisian RI (polri), dan TNI, juga mengawasi proses pemungutan suara, menghormati hasilnya, serta menggunakan cara-cara yang sepenuhnya konstitusional jika ada keberatan atas hasil pemilu.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM Erwan Agus Purwanto menerangkan seruan tersebut dirasa sangat tepat dikemukakan dari dunia pendidikan tinggi. UGM sendiri, jelas dia, dalam enam bulan terakhir telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pendidikan politik bagi mahasiswa dan mendorong diskusi yang sehat untuk mengulas visi misi para pasangan calon presiden dan wakil presiden.

“Kami mengajak masyarakat untuk duduk dan melihat bahwa diskusi program tidak harus dengan ujaran kebencian seperti di media sosial,” kata Erwan.
Melalui deklarasi ini, para akademisi mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga agar pemilu berjalan dengan lancar dan damai.

“Semoga seruan moral ini didengar dan kita berharap Pemilu 17 April nanti berjalan aman dan damai untuk Indonesia yang lebih baik,” kata dia.