BPBD Gunungkidul Siapkan Dana Dropping Air Rp500 Juta

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
29 April 2019 16:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mulai mempersiapkan rencana penanganan krisis air pada musim kemarau tahun ini. Untuk bantuan, Pemkab mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan intensitas hujan di wilayah Gunungkidul sudah mulai menurun. Seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, pada saat memasuki kemarau sejumlah kecamatan mengalami krisis air. “Sudah kami siapkan antisipasi. Salah satunya memasukkan program kegiatan bantuan air bersih di APBD 2019,” kata Edy kepada wartawan, Senin (29/4/2019).

Dia menjelaskan untuk saat ini BPBD mulai mendata daerah rawan kekeringan. Edy meyakini wilayah rawan kekeringan tidak beda jauh dengan data di tahun-tahun sebelumnya seperti di Kecamatan Tepus, Rongkop, Girisubo dan Semin. “Kami tetap akan data karena menjadi acuan agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran,” kata mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini.

Disinggung mengenai nominal anggaran dropping air yang disediakan, Edy mengakui alokasi yang disediakan mencapai Rp500 juta. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan pagu anggaran di tahun lalu yang mencapai Rp600 juta. “Banyak kegiatan yang harus dibiayai sehingga berpengaruh pada anggaran dropping,” katanya.

Dia tidak mempermasalahkan turunnya anggaran dropping di BPBD. Ia menyatakan pemetaan daerah rawan kekeringan masih dilakukan, dan saat pelaksanaan nanti kekurangan dana bisa mengajukan tambahan saat pembahasan APBD Perubahan 2019. “Jadi anggaran yang ada kami gunakan terlebih dahulu,” tutur Edy.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga di pesisir Gunungkidul mulai kesulitan air bersih karena hujan sudah tidak turun. Kondisi itu berdampak terhadap stok cadangan air yang dimilki warga. “Air sudah habis. Kami harus membeli air bersih,” kata Sukiyem, warga Dusun Karangtengah, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, warga sudah terbiasa membeli air karena minimnya sumber di wilayahnya. Untuk harga sangat tergantung dengan jarak dan medan yang dilalui. Apabila lokasi pembeli berada di pinggir jalan biasanya dipatok Rp130.000 per tangki. “Ya semakin ke jauh dan medan dilalui sulit, maka harganya akan makin mahal,” katanya.

Sukiyem menuturkan, air yang dibeli digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia harus berhemat karena satu tangki hanya cukup untuk kebutuhan selama 20 hari. “Ya harus diirit agar tidak cepat habis. Sebab, jika boros, maka biaya yang dikeluarkan semakin besar,” tuturnya.