Dari 30.000 Jurnal, Baru Terakreditasi 2.000

Ilustrasi wisuda mahasiswa. (Reuters - Fabian Bimmer)
25 Mei 2019 09:17 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Saat ini jumlah jurnal yang ada di Indonesia mencapai sebanyak 36.000 buah. Namun yang terakreditasi secara nasional baru 2.450 jurnal ilmiah.

Padahal dengan kebutuhan publikasi yang ditetapkan oleh Kemristekdikti jumlah ini belum mencukupi. Pada tahun ini, dilaksanakan berbagai usaha untuk menambah jumlah jurnal terstandardisasi sebanyak 8.000 jurnal. Untuk mencapai ini Kemristekdikti bekerja sama dengan LP3M (Lembaga Penelitian, Publikasi & Pengabdian Masyarakat) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan Program Pendampingan & Percepatan Akreditasi Jurnal Ilmiah Elektronik & Penyamaan Persepsi Asesor. Kegiatan ini dilaksanakan sejak Selasa hingga Rabu (21-22/5/2019) di Hotel Harper Jogja.

Kasubdit Fasilitasi Jurnal Ilmiah, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Lukman mengatakan kementerian memiliki kebijakan bagi dosen yang akan naik jabatan harus memiliki publikasi di jurnal.

“Ini juga akan kami berlakukan untuk mahasiswa magister dan doctoral. Karena saat ini jurnal yang terakreditasi nasional hanya 2.540 buah. Jumlah ini harus ditambah, salah satunya dengan mempercepat akreditasi jurnal nasional,” kata dia seperti dikutip dari umy.ac.id, Jumat (24/5/2019).

Menurut dia, untuk mengejar target tahun ini Kemenristekdikti meminta perguruan tinggi untuk menyiapkan jurnal terakreditasi nasional sebanyak 1.800 buah.

Pada hari pertama dilakukan pendampingan dan percepatan yang melibatkan asosiasi pengelola jurnal dan asesor nasional. “Ada 83 asesor yang turut hadir dalam program ini dan harapannya program ini akan menghasilkan 1.600 jurnal. Kami juga melibatkan 40 asosiasi jurnal dari berbagi bidang studi untuk program ini,” jelas Lukman.

Lukman menyampaikan kali ini Kemenristekdikti akan bertindak lebih aktif untuk memenuhi target nasional. “Kalau dulu Kemenristekdikti menunggu dari pengelola jurnal, apakah ada yang mau mendaftar atau tidak, dan kami tidak bisa menatget jumlahnya. Namun sekarang kami jemput bola dengan program ini. Kami kumpulkan pengelola jurnal di satu tempat, lalu diberi pendampingan. Kami berikan penilaian dan beritahu dimana saja masalahnya serta yang perlu diperbaiki,” kata dia.

Lukman juga menyampaikan setelah program penyamaan persepsi ini, para asesor akan berkunjung ke kota-kota lain di Indonesia untuk program pendampingan jurnal. “Kunjungan secara intens selama beberapa bulan ke depan, mulai dari pelatihan asesor hingga pendampingan terhadap jurnal-jurnal ilmiah,” kata Lukman.