Pemda Siapkan 3 Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata

Wisatawan memadati Pantai Parangtritis, Sabtu (16/6/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
17 Juni 2019 06:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY akan menyusun studi kelayakan, kajian lingkungan, dan rencana tata ruang strategis Samas-Parangtritis untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

Saat ini Pemda DIY mempercepat penawaran lelang terkait dengan pengembangan KEK di wilayah selatan. Pemda melelang Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Kawasan (Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Pantai Samas-Parangtritis dan Pantai Selatan Penanda Keistimewaan); Kajian Lingkungan Kawasan Pantai Selatan (Kajian Lingkungan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Pantai Samas-Parangtritis dan Pantai Selatan Penanda Keistimewaan), dan Rencana Tata Ruang Satuan Ruang Strategis Samas Parangtritis yang didanai oleh APBD DIY 2019.

Total dana untuk ketiga kegiatan tersebut sebanyak Rp1,2 miliar. Pemda DIY menargetkan KEK Pariwisata Samas-Parangtritis bisa beroperasional pada 2020. Setelah itu, KEK akan ditawarkan ke publik (swasta). "Saat ini kami menyiapkan pengembangan pariwisata Samas-Parangtritis. Masterplan studi kelayakan ekonomi hingga analisis mengenai dampak lingkungan masih dikaji," kata Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo, Sabtu (15/6).

Dia mengatakan Samas-Parangtritis menjadi satu dari beberapa destinasi yang dikembangkan dalam KEK wisata karena potensi alam wisata bahari, kuliner dan budayanya, termasuk kawasan Gumuk Pasir yang memiliki ciri khas dan daya tarik wisata. Hal itu, kata Budi sesuai dengan instruksi Presiden di mana ada tiga kawasan yang bisa dikembangkan menjadi KEK wisata di DIY.

Selain KEK Pariwisata Samas-Parangtritis, Pemda DIY juga menyiapkan KEK Tambakboyo dan Pantai Terintegrasi di Gunungkidul (Baron-Krakal-Drini). Ketiganya menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, selain persiapan regulasi aerotropolis di Kulonprogo. "Investor sebenarnya sudah banyak yang menanyakan. Hanya, mereka masih menanyakan masalah masterplan studi kelayakan ekonomi dan amdal," kata Budi.

Dia mengatakan, bila usulan ketiga KEK tersebut sudah ditetapkan oleh Presiden, maka Pemda DIY akan segera menawarkan ke investor. Tujuannya agar ketiga KEK tersebut bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan DIY. "Ini untuk menekan kesenjangan sosial dan disparitas pembangunan infrastruktur antara Utara dan Selatan," katanya.

Disinggung soal keberhasilan kawasan KEK di DIY, Budi mengambil contoh KEK Bisnis di Piyungan yang mulai beroperasi. Menurutnya, meskipun saat ini hanya tinggal menunggu perjanjian sewa tanah, tetapi keberadaan KEK Piyungan menunjukkan nilai positif. Salah satunya terkait dengan penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitar. "Kami menerjunkan 90 orang pelatih di 40 desa di sana setelah Lebaran ini," katanya.

Dikarenakan hanya lokasi finishing, di KEK Piyungan ini akan memproduksi setidaknya 100 kontainer produk kerajinan setiap bulan sebelum diekspor melalui Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Tenaga kerja yang terserap, katanya, juga berasal dari rumah tangga miskin. Mereka harus bisa bekerja di KEK Piyungan untuk menambah pendapatan agar tidak miskin lagi. Tidak ada batasan penyerapan tenaga kerja dari warga sekitar.

Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana, menambahkan sektor kerajinan dan ekonomi kreatif menjadi salah satu keunggulan DIY. Rata-rata produk diproduksi secara home industri. "Pelaku usaha yang dilibatkan dalam KEK Piyungan banyak dari UMKM. Sistem plasma bisa diterapkan di mana para pekerja bisa bekerja di rumah kemudian produknya disetor," katanya.