Menunggu Gelombang Surut, Nelayan Congot Ingin Segara Tangkap Pelagis

Sejak pertengahan puasa, perahu nelayan lebih banyak terparkir di bibir Pantai Congot, Kecamatan Temon, Sabtu (15/6/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
17 Juni 2019 04:07 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Nelayan di Pantai Congot belum melaut sejak pertengahan bulan puasa lalu sampai saat ini. Selama tidak melaut, mereka bergantung pada pekerjaan sampingan, mulai dari bertani sampai mengandalkan wisata. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Fahmi Ahmad Burhan.

Kehidupan mayoritas nelayan di Pantai Congot, Kecamatan Temon cukup cerah ketika bulan puasa masih di masa-masa awal. Alasannya, gelombang tergolong landai sehingga para pencari ikan di laut ini bisa leluasa mencari tangkapannya sampai ke tengah laut.

Ikan pelagis besar, seperti tongkol dan tuna, biasa mereka dapatkan. Dalam satu hari melaut, nelayan bisa mendapatkan pendapatan dari tangkapannya sampai Rp1 juta dalam hitungan kotor. Pendapatan yang membuat kehidupan nelayan bergairah.

Namun, siapa yang bisa memprediksi dengan pasti mengenai kondisi alam. Kecerahan itu pelan-pelan menghilang setelah gelombang tinggi melanda pesisir selatan Kulonprogo, tak terkecuali di Congot. Sejak pertengahan bulan puasa lalu sampai pekan kemarin, Sabtu (15/6/2019), mereka tidak melaut karena gelombang tinggi. Pekerjaan di luar melaut terpaksa mereka geluti. Selama tidak melaut, mereka bergantung pada pekerjaan sampingan, mulai dari bertani sampai mengandalkan wisata.

Ketua Kelompok Nelayan Bogowonto Pantai Congot Bambang Sutrisno mengatakan cuaca terlalu berbahaya untuk nelayan. “Penginnya Senin [17/6/2019] mulai melaut lagi, kalau gelombangnya sudah tidak tinggi lagi," ujarnya kepada Harian Jogja, Sabtu.

Sejak pertengahan bulan puasa itu pula, nelayan-nelayan berubah haluan menjadi pengurus perahu wisata, petani, kuli bangunan ataupun mengandalkan pendapatan istri yang berdagang kelontong. Pendapatan tak semenjanjikan ketika melaut tetapi terpenting dapur tetap mengepul.

Nelayan lainnya di Pantai Congot, Suroto, mengaku meskipun pendapatannya kini tidak seperti tiga tahun lalu, namun pendapatannya dari mengurusi perahu wisata lumayan untuk sampingan ketika tidak melaut. Ia biasa mengantarkan pengunjung dari Pantai Congot dengan perahu yang mau berwisata di hutan mangrove.

Satu kali pulang pergi perjalanan dengan menggunakan perahu dibanderol Rp10.000 per orang. Tetapi, banyak juga pengunjung yang memilih langsung datang ke hutan mangrove tidak melewati perahu yang disediakan nelayan.

Ada 10 perahu yang diparkir siap mengantarkan pengunjung untuk berwisata. Menurut Suroto, di tiga tahun lalu, saat awal perahu wisata beroperasi, hanya ada enam perahu saja. “Dulu hampir tiap hari menarik buat wisata. Sekarang hanya dua hari saja, Sabtu sama Minggu, pas ramai saja,” ungkapnya.

Menurut Suroto, pendapatan sekarang dari mengurusi perahu wisata cenderung berkurang. Selama Sabtu dan Minggu dapat Rp500.000 belum dipotong biaya pembelian bahan bakar minyak (BBM) serta operasional. Dulu di awal mula perahu wisata beroperasi mengantar pengunjung, pendapatan Suroto bisa sampai Rp1,5 juta sehari.