PPDB 2019 : Pergeseran Sekolah Membingungkan Pendaftar di Gunungkidul

Ilustrasi PPDB. - JIBI
25 Juni 2019 21:47 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Aturan mengenai pergeseran sekolah dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 tingkat SMA membingungkan calon siswa dan wali murid di Gunungkidul.

Pada PPDB tahun ini, tiap pendaftar atau calon siswa mendapat tiga pilihan jurusan di sekolah tempatnya mendaftar. Panitia PPBD SMAN 1 Wonosari, Sriyanta, mengatakan seorang pendaftar bisa saja tergeser ke sekolah lain yang sama sekali tidak ia pilih dalam PPDB.

Ia mencontohkan, siswa yang telah mendaftar di SMAN 1 Wonosari yang memilih jurusan IPA sebagai pilihan pertama, lalu pilihan keduanya kelas IPS, dan pilihan ketiga adalah jurusan Bahasa, tidak serta merta diterima di ketiga pilihan tersebut.

Sistem kata dia akan menyaring data secara otomatis dengan menyesuaikan kuota jurusan. "Jika kuota sudah terpenuhi [pada ketiga pilihan tersebut], maka siswa yang menjadikan pilihan pertama, kedua justru dilempar ke sekolah lain yang kuotanya masih tersedia.

“Ini adalah hal yang harus dipahami oleh calon siswa,” kata Sriyanta, Selasa (25/6/2019). Dikatakannya, tidak hanya calon siswa yang belum paham sepenuhnya tentang aturan PPDB, wali murid juga masih banyak yang bingung. Misalnya mengenai pertimbangan diterima atau tidaknya seorang pendaftar di sekolah pilihannya.

Dalam PPDB 2019, sejumlah hal menjadi pertimbangan diterima tidaknya seorang pendaftar. Antara lain faktor jarak khususnya bagi siswa yang bertempat tinggal di zona satu sesuai dengan NIK calon siswa. Faktor lainnya pilihan jurusan, nilai ujian nasional, serta siapa yang mendaftar paling cepat.

Salah satu wali murid, Jawoto, mengaku belum mengetahui adanya kemungkinan anaknya tidak diterima di sekolah yang sudah dipilih. Menurutnya, sistem zonasi saat ini membingungkan orang tua murid, dan di sisi lain kurang sosialisasi dari pemerintah ataupun sekolah.

"Kalau sosialisasinya jauh-jauh hari tidak banyak orang tua yang kelabakan harus antre dari pagi dan belum lagi ada kabar seperti ini [potensi tergeser ke sekolah lain]," katanya.