Standar Keamanan di Lokasi Selfie Objek Wisata Jadi Sorotan

Wisatawan sedang berswafoto di sekitar Bendung Kamijoro, Sabtu (16/2/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
08 Juli 2019 06:17 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Faktor keamanan di spot swafoto di sejumlah objek wisata di Bantul mendapat sorotan dari DPRD Bantul.

Anggota DPRD Bantul Setiya mengatakan beberapa objek wisata kini memang tengah memanfaatkan spot swafoto sebagai andalan untuk menarik minat pengunjung. Para pengelola objek wisata seolah berlomba dalam menciptakan spot foto yang menarik. “Di beberapa objek wisata, khususnya yang berada di dataran tinggi, spot untuk swafoto memang unik dan menarik. Namun kurang memperhatikan aspek keselamatan [pengunjung]. Padahal, kebanyakan spot ada di bibir jurang,” kata legislator yang pada periode 2019-2024 tak lagi tercatat sebagai anggota DPRD Bantul tersebut.

Oleh karena itulah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul seharusnya lebih aktif mengawasi dan mengevaluasi. Tak hanya itu, dia juga berharap pemerintah menerapkan standar terkait dengan spot swafoto yang berisiko tinggi terhadap keselamatan wisatawan. “Meski upaya masyarakat membangun spot itu perlu diapresiasi, namun pemerintah juga harus punya standar keamanan yang harus ditaati [oleh pengelola destinasi wisata],” ucap Setiya.

Tak hanya soal standar keamanan, lantaran spot-spot itu merupakan bagian penting dari objek wisata yang dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, pemerintah juga perlu mengapresiasi. Salah satu bentuk apresiasi yang bisa dilakukan pemerintah adalah melalui pembinaan dan pendampingan, termasuk di antaranya adalah pemfasilitasian dan pembangunan infrastruktur.

“Mulai dari akses jalan, penerangan, air bersih, dan fasilitas umum bisa ditambahkan oleh Pemkab. Demikian juga dengan konsep pengembangan, agar tidak sekali muncul, kemudian hilang,” ucap politikus yang santer dikabarkan bakal mengundurkan diri dari partai politik yang membesarkannya selama ini, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Tak hanya itu, Pemkab, kata dia, juga perlu menyusun konsep pengembangan terpadu antarobjek wisata. Dengan begitu satu destinasi dan destinasi lain bisa saling melengkapi. “Bukan sekadar saling bersaing. Konsep yang terpadu ini juga memudahkan untuk membuat promosi wisata,” kata Setiya.

Jika hal itu bisa dilakukan, bukan tidak mungkin kunjungan wisatawan akan lebih merata ke sejumlah objek wisata di Bumi Projotamansari. Tak hanya itu, lama kunjungan juga akan lebih panjang. “Karena wisatawan akan sadar bahwa ternyata untuk menikmati Bantul tidak cukup sehari. Atau setidaknya wisatawan akan datang kembali di lain waktu,” ucap dia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan selain secara bertahap memperbaiki sarana dan prasarana di sejumlah objek wisata, Pemkab diakui dia juga tengah mencari cara lain dalam mempromosikan wisata Bantul.

“Misalnya, bukan hanya objek wisata yang kami tawarkan, namun kisah-kisah di balik objek wisata. Misalnya tentang sejarah Pangeran Diponegoro di Gua Selarong, sejarah Kerajaan Mataram. Ada sejarah Kraton di Pleret, dan juga makam raja-raja Mataram,” ucap dia.