Cegah Antraks, Kulonprogo Larang Peredaran Sapi Asal Gunungkidul

Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019). - Istimewa
09 Juli 2019 07:02 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo mengeluarkan surat imbauan kepada para penjual hewan kurban untuk tidak mendatangkan sapi dari Gunungkidul sebagai barang jualan hewan kurban.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disperpangan Kulonprogo Drajat Purbadi mengatakan surat imbauan itu diberikan kepada penjual hewan kurban di Kulonprogo sejak sepekan lalu. Disperpangan menginginkan sapi asal Gunungkidul tidak beredar di Bumi Menoreh.

“Jangan datangkan hewan kurban dari Gunungkidul,” ucapnya, Senin (8/7/2019). Imbauan tersebut sebagai antisipasi agar penjual terhindar dari adanya kasus antraks di Kulonprogo mengingat beberapa waktu lalu ada temuan antraks terjadi di Gunungkidul.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, penjual hewan kurban banyak yang mendatangkan hewan kurban dari Gunungkidul. Wilayah lain yang menjadi penyuplai hewan kurban lainnya yaitu dari Jawa Tengah, seperti Purworejo, Magelang, Wonosobo dan Banjarnegara.

Kasus antraks pernah terjadi di Kulonprogo pada 2017 lalu. Tiap tahunnya, berbagai gangguan kesehatan pada hewan lainnya ditemui seperti diare, pink eye dan cacing hati. Nantinya, Disperpangan akan bertugas memantau penjualan dan penyembelihan hewan kurban pada pelaksanaan Iduladha. Sekitar dua pekan sebelum Iduladha, Disperpangan akan mengintensifkan pemantauan.

Saat ini, hewan kurban mulai datang dari berbagai daerah. Drajat menegaskan Disperpangan akan memeriksa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) terlebih dahulu. Setiap penjual dituntut untuk mempunyai SKKH.

Kepala Seksi Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan DIY Trisno Agung Wibowo menuturkan penyakit antraks tidak menular dari manusia ke manusia tetapi penularan terjadi dari hewan ke manusia. Penyakit antraks akan menyebar dengan cepat.

“Bila terjadi kasus bergejala positif antraks, harus segera diobati dan dilakukan pemindaian,” tuturnya. Dalam pemantauan nantinya diberikan vaksinasi kepada hewan yang benar-benar masih sehat agar terhindar dari berbagai macam penyakit seperti antraks. Obat cacing juga diberikan pada hewan yang sekiranya dibutuhkan sesuai dengan anjuran dokter hewan.