Materi Pelatihan BLK Ketinggalan Zaman, Ini Sebabnya

Sejumlah warga mendatangi Pusat Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja untuk mendapatkan informasi kerja di kompleks Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Kulonprogo, Wates, Rabu (9/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
29 Juli 2019 01:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Revolusi Industri 4.0 menuntut tenaga kerja meningkatkan kemampuan. Namun, hingga saat ini masih banyak tenaga kerja dan pencari kerja dengan kemampuan yang pas-pasan.

Di DIY, banyaknya pekerja dan pencari kerja yang hanya tamatan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) membuat Balai Latihan Kerja (BLK) belum bisa sepenuhnya bertansformasi ke sistem digitalisasi.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Andung Prihadi Santosa, mengungkapkan saat ini pelatihan dan materi yang diberikan di BLK masih bersifat konvensional.

“Belum ke digital. Cara konvensional masih tetap dipertahankan karena jumlah pengangguran khususnya lulusan SD di DIY masih tinggi. Jadi belum memungkinkan untuk materi programming dan semacamnya,” kata Andung, Sabtu (27/7/2019).

Menurut Andung, pelatihan yang diberikan di BLK saat ini masih didominasi pada sektor yang bersifat pada karya dan kewirausahaan seperti las, bidang pertekstilan dan perhotelan. “Meski demikian beberapa BLK juga mengikuti perkembangan sesuai kondisi yang ada seperti di Kabupaten Kulonprogo yang memberikan pelatihan untuk mendukung keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA),” katanya.

Untuk materi yang mengarah ke Revolusi Industri 4.0, menurut Andung, saat ini tengah dipersiapkan oleh Kementerian Kenetagakerjaan. Menurutnya kesiapan tersebut tidak mudah lantaran perlu menjadi perhatian mulai dari materi dan kemampuan instruktur.

Andung berharap BLK yang ada di tiap wilayah di DIY dapat membantu mengentaskan pengangguran yang ada di DIY.

“Yang kursus harapannya minimal 80% bisa langsung diterima di pasar kerja. Untuk saat ini masih di kisaran 70%,” ujarnya.

Dijelaskan Andung, keberadaan YIA turut membantu mengurangi angka pengangguran khususnya di Kulonprogo. Sejumlah warga yang mengikuti pelatihan di BLK dapat terserap bekerja di bandara.