Sharp Borong Tiga Penghargaan JBBA dan SBBI 2026
PT Sharp Electronics Indonesia kembali membuktikan konsistensinya sebagai salah satu merek elektronik terpercaya di Indonesia dengan meraih tiga penghargaan ber
Petugas pemeliharaan tanaman dari DLH Bantul membongkar tanah berisi bebatuan dan puing di devider Jalan Sudirman, Selasa (30/7/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Proyek revitalisasi Jalan Sudirman, Bantul berdampak buruk pada tanaman yang ada di sepanjang pembatas antara dua jalur di jalan tersebut. Tanaman-tanamn itu terlihat mengering dan layu, bahkan beberapa di antaranya ada yang mati.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, Yohanes Aryanto mengatakan hampir 50% tanaman yang ada di sepanjang Jalan Sudirman tidak subur sehingga perlu diganti. Dia mengatakan banyak faktor yang membuat tanaman di jalan protokol sepanjang 1,5 kilometer tersebut tidak subur.
“Salah satunya karena tempat tanaman di devider jalan kurang pupuk. Selain itu komposisi tanahnya juga kurang subur, Dulu saat pembangunan devider itu kan hasil bongkaran dimasukkan ke situ," kata dia, saat dihubungi Selasa (30/7/2019).
Oleh karena itu, DLH Bantul berencana mengeruk kembali tanah yang ada di devider tersebut. Pengerukan akan dilakukan secara bertahap guna membuang bebatuan dan puing hasil bongkaran. “Lalu kami akan menggantiya dengan tanah merah, lalu dicampur pupuk dan kompos,’ ucap Ariyanto.
Penggantian tanaman tersebut dilakukan bertahap karena menyesuaikan anggaran. Aryanto mengatakan penggantian hanya dilakukan untuk tanaman yang mati. "Bagian yang bagus tetap dipertahankan," ujar dia.
Jenis Tanaman
Kepala Seksi Pemeliharaan Lingkungan DLH Bantul, Woro Suryani, menambahkan anggaran penggantian tanaman di Jalan Sudirman tahun ini memang tak bisa dilakukan secara besar-besaran lantaran anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp60 juta. "Tahun depan akan kami anggarkan lagi, " kata dia.
DLH Bantul, kata dia, nantinya akan memperbanyak tanaman lidah mertua yang dianggap sebagai tanaman penyerap polusi udara. “Saat ini tanaman lidah mertua memang baru sedikit. Sementara tanaman kacang-kacangan akan dikurangi karena pertumbuhannya terlalu cepat,” ucap dia.
Tak hanya itu, jenis pohon tabebuya juga akan ditambah. Pohon tabebuya yang ditanam tak hanya pohon yang berbunga warna kuning, namun juga merah dan ungu. "Biar variatif," kata Woro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PT Sharp Electronics Indonesia kembali membuktikan konsistensinya sebagai salah satu merek elektronik terpercaya di Indonesia dengan meraih tiga penghargaan ber
Arya Saloka mengungkap pengalaman menjadi cowboy dan belajar berkuda di film Empat Musim Pertiwi yang tayang 8 Oktober 2026.
Kisah mendalam 2.000 pekerja PT Woneel Midas Leathers di Gunungkidul yang memproduksi sarung tangan olahraga kelas dunia hingga rencana ekspansi.
Dosen UGM Cahyaningrum Dewojati mengaku KTP-nya dipinjam untuk formalitas yayasan Little Aresha, tetapi namanya masuk struktur kepengurusan.
15 universitas terbaik di Jawa Tengah versi Webometrics September 2026. Undip menjadi kampus dengan peringkat tertinggi di Jawa Tengah.
Basarnas belum menemukan tanda lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Pencarian terkendala area rawan dan asap tebal.