Burung Bisa Ganggu Penerbangan, tetapi Pengelola Bandara Kulonprogo Harus Bijak

Pembangunan terminal Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, Sabtu (6/4/2019). - Harian Jogja/Budi Cahyana
11 Agustus 2019 20:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Burung di sekitar Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. Namun, area sekitar bandara selama ini sudah menjadi tempat singgah bagi para burung jauh sebelum bandara tersebut berdiri.

Oleh karena itu, para pemangku kepentingan di dunia penerbangan perlu bijak dalam menyikapi keberadaan para burung ini. Jangan sampai demi kepentingan pembangunan, justru mengganggu kelestarian alam.

“Memang sebelum ada burung besi [pesawat] di sini [Kecamatan Temon] sudah jadi jalur migrasi bagi burung-burung, ada kuntul dan dara laut. Beberapa bahkan menjadi tempat singgah sementara, ada juga burung endemik seperti trinil yang memang sudah ada di sini sejak dulu,” kata Kepala Resort Konservasi Wilayah Kulonprogo, BKSDA DIY, Gunadi, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan migrasi burung-burung ini terjadi pada Agustus-Oktober. Jumlahnya mencapai 5.000 ekor burung dari berbagai jenis. Selama tiga bulan, burung-burung tersebut akan menetap sementara di sekitar bandara, setelah itu kembali ke habitat awalnya. Namun, ada juga yang menetap hingga jangka waktu lama.

Dia menjelaskan alasan burung menjadikan wilayah sekitar bandara sebagai tempatnya singgah karena kawasan tersebut, banyak potensi pakan, mulai sisa udang dari area tambak serta ikan di sepanjang muara Sungai Bogowonto dan muara Sungai Serang.

Namun, seiring beroperasinya bandara, keberadaan burung-burung tersebut mulai berkurang. Habitatnya juga terganggu. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin sekitar bandara yang dulunya banyak ditemukan burung-burung jenis lain seperti trocokan, perkutut, koci, cucak jenggot, pelatuk bawang, dan srikatan bakal hilang.

Ketua Pokmawas Wanatirta Warsa Suwita mengatakan untuk mengantisipasi hal tersebut, belum lama ini Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo melakukan survei lokasi calong kawasan penyangga habitat burung.

Survei tersebut lanjutnya dilakukan di timur dan barat bandara. Untuk wilayah barat, menyasar hutan mangrove Wanatirta, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon. Hutan ini nantinya bakal menjadi rumah bagi para burung-burung endemik dan imigran.

Dari informasi yang ia peroleh, jika hutan mangrove yang dikelolanya dijadikan kawasan penyangga, maka luasan hutan akan ditambah. Adapun untuk saat ini luasan hutan mangrove sekitar mencapai tujuh hektare.