Hari Pertelevisian Nasional: Bertahan Meraih Hati Pemirsa dengan Konten Lokal

26 Agustus 2019 06:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Hari Pertelevisian Nasional diperingati tiap 24 Agustus. Di Jogja sejumlah TV lokal masih berusaha bertahan meraih minat pemirsa dengan pantang menyerah menyajikan konten lokal. Kini sejumlah stasiun TV itu mulai menetapkan konten andalan peraih paling banyak penonton.

Konten yang tidak mungkin digarap oleh televisi nasional adalah fokus TV lokal di DIY untuk tetap eksis di mata para pemirsanya. Misalnya konten pariwisata, budaya, dan isu lokal yang hanya ada di DIY. Penanggungjawab Unit Produksi Program Jogja TV Yopie Supiyo mengatakan jumlah pemirsa lebih banyak didapat ketika TV menayangkan konten lokal.

"Kalau TV lokal menayangkan konten nasional, biasanya jumlah pemirsa malah sedikit sekali karena mereka sudah lihat itu di TV nasional. TV lokal kalau mau hidup tidak ada cara lain selain harus lebih banyak menayangkan konten lokal," kata Yopie kepada Harian Jogja, Selasa (20/8) pekan lalu.

Yopie menjelaskan persaingan konten TV lokal di DIY sangat sehat. Setiap televisi telah memiliki karaktetistik kontennya masing-masing. Dia mengatakan Jogja TV lebih fokus pada konten budaya di DIY. Berbeda lagi dengan TV lokal lain di DIY, ada yang fokus pada pariwisata DIY ada pula yang fokus konten religi.

Klasifikasi konten sudah dimiliki masing-masing TV tanpa saling bertabrakan. Hal itu membuat persaingan TV lokal untuk mencari pemirsa masih dalam kategori sehat. "Jadi karena itu ya masih optimistis untuk cari pemirsa. Terbukti konten lokal Jogja TV pemirsanya masih lumayan jumlahnya," kata Yopie.

Namun Yopie tak memungkiri bahwa gempuran Netflix dan Youtube tidak bisa diabaikan. Menghadapi konten masif dari dua saluran tersebut, Jogja TV memiliki beberapa program unggulan yaitu konten budaya dan jalan-jalan. Jalan-jalan merupakan konten yang banyak disaksikan oleh pemirsa usia muda karena menampilkan tempat-tempat rekreasi atau nongkrong yang menarik di DIY.

Selain itu, Jogja TV juga mengunggah beberapa konten bertema budaya jalan-jalan ke saluran Youtube mereka. Judul yang digunakan harus menarik, tak sama dengan judul yang ditampilkan di TV. Berbagai konten selain budaya juga diunggah di Youtube untuk menjaring lebih banyak pemirsa. Misalnya konten Jalan-Jalan khusus area Jawa Tengah yang tampilannya lebih interaktif, yaitu reporter mengambil gambar dengan cara Vlogging atau merekam dirinya sendiri.

Saat diwawancarai di kantor Jogja TV, Yopie baru saja pulang dari pertemuan dengan Lembaga Sensor Film. Dia mengatakan ada peraturan baru, salah satunya menghilangkan bagian iklan yang mengandung unsur penipuan.

Stasiun TV lokal lain yang melakukan hal serupa adalah ADiTV. Televisi lokal swasta yang kantornya berlokasi di Jalan Raya Tajem KM 3 Sleman ini memiliki strategi dengan terus mendekat pada masyarakat lalu membuat ciri khas tayangan tersendiri.

“Kami tahu diri, kami televisi swasta lokal. Jadi yang menjadi kekuatan kami memang kedekatan dengan masyarakat. Selain itu juga diferensiasi, terkait dengan target pasar,” kata Direktur Utama ADiTV Rangga Almahendra ketika ditemui Harian Jogja di MM UGM pada Kamis (21/8).

Oleh karena itu, meskipun sudah memiliki studio yang besar, ADiTV tetap menggunakan wilayah DIY dalam membuat program siaran. “Ini juga yang membedakan kami dengan televisi nasional. Televisi nasional jangkauannya lebih luas, tapi akhirnya mereka jadi tidak bisa lebih dalam,” katanya.

ADiTV pun masih cukup optimistis mampu menarik pemirsa lokal. Hal ini mengingat televisi ini merupakan salah satu televisi  pendidikan dimana pemilik saham terbesarnya dari Muhammadiyah. Sehingga, ADiTV sudah memiliki segmen utama, yaitu warga Muhammadiyah. “Televisi yang bisa bertahan bukan hanya dekat dengan pemirsa, tetapi juga fokus dengan segmennya,” kata Rangga.

Salah satu acara yang memiliki rating tinggi ADiTV yaitu Mocopat Syafaat Cak Nun. Selain itu ada juga program acara religi dan berita.

Meski memiliki segmen pasar yang pasti, ADiTV terus melakukan inovasi agar bisa tetap bertahan. Sebab, menurut Rangga industri televisi masih serba tidak pasti. Apalagi kini telisi semakin tersaingi Youtube, Netflix hingga IG TV (platfrom media sosial Instagram).

Oleh karena itu, ADiTV kini melayani pemirsa melalui platform media online aditv.co.id  dengan memberikan akses streaming. Selain aditv.co.id, inovasi lain dari ADiTV yaitu situs bagiilmu.co.id. “Mau tidak mau memang kami harus melakukan digitalisasi,” kata Rangga.

Pemirsa Tertarik

Konten TV nasional yang saat ini dipenuhi oleh sinetron menguras emosi justru membuat Mariyanah, 45, beralih rutin menonton TV lokal. Ibu dua anak asal Bantul ini suka menyimak berita pemerintahan lokal dan konten pariwisata. "Terkadang lihat teman saya atau tetangga saya yang kerja di dinas atau sekolah-sekolah gitu diwawancara di televisi lokal kan rasanya senang aja," kata Mariyanah.

Akan tetapi ada satu hal yang mengganggu Mariyanah menyaksikan TV lokal, yaitu iklan pengobatan alternatif atau home care yang dijumpainya di beberapa saluran TV lokal. Biasanya iklan itu muncul siang hari di tengah program yang sedang dia nikmati.

TV lokal juga memiliki pemirsa usia muda. Baron Waskita, 20, misalnya. "Nonton sesempatnya aja, terkadang sebelum tidur siang kalau lagi luang, atau malam setelah pulang kuliah. Konten diskusi malam hari dengan tokoh pemerintah setempat saya suka, meski saya anak rantau jadi bisa belajar soal Jogja," kata Baron.

Namun Baron terkadang merasa bosan dengan variasi program di TV lokal DIY yang menurutnya masih terlalu umum. Misalnya pariwisata, budaya dan edukasi. Harapan dia TV lokal bisa lebih berkreasi menciptakan program unik yang menarik dan sesuai segmen pemirsa mereka.

Wisnu Prasetya Utomo, peneliti media sekalius pengajar di International Undergraduate Programme (IUP) Departemen Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut televisi lokal tetap sulit berkembang selama regulasi yang ada saat ini, seperti Undang-Undang Penyiaran, tidak diperbaiki.  Akan tetapi, celah televisi lokal untuk tetap bertahan masih ada. Menurutnya orang tetap membutuhkan konten-konten lokal. “Persoalannya ya bagaimana nanti mengemasnya dan bagaimana strategi untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” katanya.