3 Sekolah di Gunungkidul Jadi Contoh Program Sekolah Rintisan Google

Seorang guru di SMP Negeri 1 Karangmojo menunjukkan cara kerja Google for Education untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar yang terhubung dengan sekolah lain, Senin (7/10/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
07 Oktober 2019 21:07 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Gunungkidul menjadi kabupaten pertama di DIY yang mendapat program sekolah rintisan Google. Tiga sekolah yang menjadi pilot project sekolah rintisan Google yaitu SD Negeri 1 Wonosari, SMP Negeri 1 Karangmojo dan SMA Negeri 1 Playen.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul bersama Google for Education menyertifikasi guru untuk terlibat dalam proyek tersebut. Sebanyak 14 guru dari tiga sekolah rintisan itu dinyatakan memenuhi kualifikasi untuk menjadi pengajar berbasis teknologi.

Kepala Disdikpora Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengungkapkan program sekolah rintisan dengan Google for Education merupakan program tindak lanjut guna meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan di Bumi Handayani. Tujuannya untuk menjadikan pendidikan di Gunungkidul siap menjalankan metode pembelajaran abad informasi serta dapat menghasilkan lulusan pendidikan yang bisa menjadi pelaku ekonomi di era Revolusi Industri 4.0. "Ini sebagai langkah awal untuk menyiapkan generasi yang siap menyambut era Revolusi Industri 4.0," kata dia, Senin (7/10/2019).

Untuk dapat memenuhi tantangan era ekonomi berbasis teknologi otomatisasi dan jaringan Internet, pelaku ekonomi diharapkan memiliki kecakapan yang kuat yaitu kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif. "Selain dengan Google for Education, kami juga bersinergi dengan layanan teknologi pembelajaran jogjabelajar.org yang dimiliki oleh Pemda DIY," ujarnya.

Optimalisasi layanan Google for Education melalui domain jogjabelajar.org untuk menunjang metodologi pembelajaran berbasis teknologi. Sekolah-sekolah rintisan juga mendapat bantuan berupa Chrome book, komputer dengan teknologi yang dikembangkan Google. Di dalamnya terdapat aplikasi pembelajaran G Suite for Education dan metodologi pembelajaran berbasis komputasi.

Direktur Duta Digital Informatika, Arya Sanjaya, mengatakan program rintisan sekolah sesuai dengan misi Gunungkidul dalam mewujudkan smart city. Ia menyebut Gunungkidul dipilih sebagai sekolah rintisan Google karena dari sisi infrastruktur dan antusiasme pemerintah sangat tinggi.

Setiap sekolah dilengkapi dengan perangkat Google Chrome dan rata-rata memiliki sekitar 27 komputer. Hal ini penting karena setiap rombongan belajar [rombel] atau jumlah siswa di dalam kelas ada 25 sampai 27 orang. "Google Chrome dapat dipakai secara bergantian oleh setiap kelas," katanya.

Setiap anak di sekolah rintisan mempunyai akun yang dibelakangnya tercantum jogjabelajar.org. Siswa mendapat akun email gratis dengan kapasitas penyimpanan di Google Drive yang tak terbatas. Program Google for Education telah dipakai sekitar 80 juta pengguna di seluruh dunia, dan untuk Indonesia Google for Education baru ada sekitar empat tahun terakhir. "Artinya program ini sudah berjalan dan banyak dipakai orang," kata dia.