Disbud DIY Siapkan DED Revitalisasi Jokteng Lor Wetan

Abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. - Harian Jogja/Desi Suryanto
08 Oktober 2019 06:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY saat ini menyiapkan detail engineering design (DED) rencana revitalisasi pojok beteng (Jokteng) Lor Wetan. Jika DED selesai tahun ini, maka proyek revitalisasi bisa dilakukan tahun depan.

Kepala Disbud DIY Aris Eko Nugroho mengatakan saat ini DED pembangunan kembali Jokteng Lor Wetan tersebut masih berproses. Pemenang lelangnya sudah ditentukan pada September lalu. "Ini [DED] sedang dikerjakan. Kami targetkan selesai tahun ini," kata Aris, Senin (7/10/2019).

Penyelesaian DED tersebut, katanya dilakukan sembari menunggu pengosongan lahan. Lahan di sekitar Jokteng sendiri diharapkan sudah kosong pada Desember mendatang.

"Memang sudah ada kesepakatan dengan penghuni kalau Desember sudah pindah dari sana. Baik yang status lahannya magersari atau yang bukan magersari sudah dibayar," katanya.

Sekadar diketahui, total terdapat 23 bidang tanah yang dibebaskan oleh Pemda DIY di sekitar Jokteng Lor Wetan. Keberadaan lahan yang dibebaskan berada baik di kelurahan Prawirodirjan maupun Panembahan. Sebagian merupakan tanah Magersari (bagian dalam beteng), sebagian lahan lainnya (bagian luar beteng) berstatus hak milik dan hak guna bangunan.

Pemugaran Jokteng tersebut bertujuan untuk mengembalikan fasad bangunan tersebut pada fungsi awalnya. Bangunan beteng saat ini tertutup oleh bangunan warga sehingga tidak terlihat wujud aslinya. Kondisi beteng tersebut berbeda dengan tiga Jokteng lainnya yang mengelilingi Keraton Ngayogyakarta.

Pemugaran pojok benteng tersebut, juga bagian dari amanat undang-undang dan Perda Keistimewaan di mana Pemerintah berkewajiban untuk menyelamatkan tradisi dan warisan leluhur.

"Untuk desain pemugaran, pada prinsipnya seperti tiga Jokteng yang lainnya. Termasuk letak prasastinya akan ditaruh dimana masih akan dibahas. Hanya saja untuk desain sampai saat ini desain yang disiapkan belum disetujui," katanya.

Jika seluruh persiapan lancar dan tidak ada perubahan, kata Aris, maka proses pemugaran akan dilakukan tahun 2020. Desain yang disiapkan juga melibatkan sejumlah ahli seperti dari BPCB. "Proses pembangunannya apakah dilelang oleh Kraton atau Disbud juga masih akan dibahas. Harus ada kesepakatan," katanya.

Keterlibatan Keraton dalam proses pelelangan, lanjut Aris, tidak ada persoalan. Selain sudah berbadan hukum, keraton juga sudah pernah melelang revitalisasi Jokteng Sisi Barat bagian Selatan. "Yang Jokteng Nagan itu yang melelang keraton. Jadi keraton bisa melelang meskipun Disbud yang mengerjakan DED nya," jelas Aris.

Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo mengatakan revitalisasi Jokteng tersebut tidak hanya sekadar mengembalikan bangunannya tetapi penandanya (prasasti Geger Sepehi) tetap dipertahankan. "Penandanya tetap harus ada sebagai aspek sejarah atau historisnya, tidak dihilangkan. Kalau pun terkena dampak pembangunan, nanti cukup digeser saja [letaknya]," kata Budi.

Sekadar diketahui, akibat serbuan tentara Inggris pada 1812 sebagian bangunan Beteng tersebut hancur. Peristiwa tersebut dikenal dengan Geger Sepehi. Bangunan Tulak Bala yang berada di empat sudut tembok Baluwarti Kratonan Ngayogyakarta Hadiningrat pun berkurang. Semula berjumlah empat, setelah peristiwa Geger Sepehi hanya tersisa tiga Jokteng.

Pengembalian fasad Joteng ini, lanjut Budi, juga bertujuan untuk menata kawasan sumbu filosofis untuk menunjukkan fasad Keraton Ngayogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia. "Jadi pengembalian fasad ini tidak asal-asalan menata fasad bangunan. Ada aturannya yang harus dipenuhi. Apalagi berada di kawasan sumbu filosofi," katanya.

https://www.youtube.com/watch?v=w6j88veDWT8