Ditolak Kraton, Panitia Ngotot Gelar Muslim United di Masjid Gedhe Kauman yang Mengundang Abdul Somad

Kraton Ngayogyakarta. - Harian Jogja/Desi Suryanto
09 Oktober 2019 22:32 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Acara Muslim United 2019 tetap bakal digelar di lingkungan Masjid Gedhe Kauman, Jogja kendati sudah tegas dilarang pihak Kraton Jogja.

Pantauan Harianjogja.com, pelataran Masjid Gedhe sejak pintu masuk sisi Selatan dipenuhi oleh tenda kuncup berwarna putih. Beberapa pekerja juga sibuk mendirikan rangka tenda di depan masjid tersebut. Tampak baliho informasi kegiatan juga terpasang di depan masjid. Kegiatan Muslim United yang diinisiasi oleh Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) ini mengangkat tema “Sedulur Saklawase” terus berjalan.

Padahal terdapat dua surat dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tidak mengizinkan kegiatan tersebut digelar di Masjid Gedhe Kauman, namun panitia tidak mengindahkan kedua surat tersebut. Kondisi tersebut pun mengundang pertanyaan di benak masyarakat, termasuk Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono.

Nanang Syaifurozi selaku Ketua panitia Muslim United mengatakan meski sempat mengalami halangan berupa penolakan izin yang dilayangkan oleh pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, namun Muslim United 2019 akan tetap dilaksanakan sesuai agenda yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Saya yakin ini adalah murni syiar agama dan tidak berbenturan dengan kepentingan apapun, jadi tidak ada alasan untuk menghalanginya. Apalagi tempatnya di masjid dan ini memang pengajian," katanya.

Perihal tuduhan yang macam-macam, panitia ingin membuktikan kalau (tuduhan itu) tidak benar. "Jadi kajian, walau rame orang, tapi tertib, bersih, tidak ada provokator, tidak ada intimidasi, tidak ada ujaran kebencian," jelas Nanang.

Nanang pun menegaskan kalau kegiatan Muslim United 2019 tidak didasari dari kepentingan kelompok manapun dan murni hanya untuk mempersatukan kembali umat muslim di Indonesia melalui kajian-kajian agama yang mengangkat tema tentang “Persatuan”.

Ditambah lagi, kegiatan ini diadakan di Masjid Gedhe Kauman dimana merupakan simbol Kerajaan Mataram di Jogja yang memiliki nilai sejarah kalau di masa itu umat Islam juga bisa bersatu. Sehingga Jogja memiliki kontribusi cukup besar terhadap persatuan umat Muslim.

Indonesia, kata Nanang, saat ini tengah dilanda dengan pelbagai isu dan perbedaan pendapat yang dapat memecah belah persatuan dan perdamaian umat muslim. Terlebih lagi, penduduk Indonesia baru saja melewati tahun politik yang erat kaitannya dengan provokasi dan ujaran kebencian yang bisa menimbulkan perpecahan.

"Hal ini yang menjadi inisiatif kenapa Muslim United diselenggarakan, untuk mempersatukan kembali umat Muslim agar dapat saling berdamai dan menjauhkan diri dari perpecahan," katanya.

Apabila umat Islam yang mendominasi sebanyak 87% di Indonesia ini dapat bersatu, sambung dia, tentunya dapat menjadi potensi luar biasa yang dapat mengurangi angka disintegrasi secara drastis. Sejumlah ustaz dan dai seperti Ustaz Hanan Attaki, Ustaz Luthfi Basori, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Abdul Somad, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Salim A. Fillah, hingga Ustaz Felix Siauw dijadwalkan hadir.

"Selain dihadiri oleh lebih banyak ustadz hingga sekitar 40 ustadz, Muslim United tahun ini pun turut melibatkan hingga 1000 panitia dan volunteer yang didatangkan dari berbagai komunitas Muslim di Indonesia," katanya.