Puncak Musim Kemarau, Harga Air Tembus Rp400.000/Tangki

Warga Dusun Gunung Asem, Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, memperbaiki sambungan pipa air untuk menyalurkan air dari truk tangki ke bak penampungan milik warga, Selasa (15/10/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
15 Oktober 2019 18:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kemarau panjang yang masih terus terjadi membuat warga semakin kesulitan memperoleh air bersih. Di wilayah Kecamatan Gedangsari, harga air bersih melambung mencapai Rp400.000 per tangki kapasitas 5.000 liter. Dropping air bersih dari pemerintah tak seluruhnya bisa dirasakan warga.

Salah seorang warga Desa Watugajah, Kecamatan Gedangsari, Sutini, mengaku harus rela membeli air dengan harga yang cukup mahal kepada pedagang air swasta demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, air bantuan dari pemerintah dan pihak swasta tidak mampu mencukupi kebutuhan seluruh warga.

"Beberapa waktu lalu harga air bersih berkisar Rp350.000 per tangki, tapi sekarang sudah naik menjadi Rp400.000 per tangki," kata Sutini saat ditemui Harian Jogja, Selasa (15/10/2019).

Ia menjelaskan dengan harga yang sangat mahal, tidak semua warga bisa membelinya. Untuk membeli air, warga harus patungan. Selain itu, warga juga menunggu bantuan dari pemerintah dan pihak swasta yang masuk ke wilayah mereka.

Menurut Sutini, harga air bersih dari pedagang terbilang mahal mengingat kondisi geografis Desa Watugajah didominasi perbukitan dengan jalan yang terjan. Dengan medan jalan yang terjal, tidak semua pengemudi truk tangki air bersedia mengirimkan air. "Desa kami berada di perbukitan yang tinggi, sehingga sopir truk tangki jarang yang berani naik, kalau berani harus hati-hati," ujarnya.

Kesulitan air juga dirasakan oleh warga Dusun Gunung Asem, Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk. Di wilayah ini terdapat 104 kepala keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih selama sebulan terakhir. Saat musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, warga masih bisa mengandalkan air dari sumur yang mereka miliki. "Tahun ini sumur kami benar-benar kering. Mungkin karena kemarau yang sangat panjang," ujar Mujib, warga Dusun Gunung Asem.

Akibatnya, warga harus rela mengeluarkan uang untuk membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk satu tangki ukuran 5.000 liter, warga harus membeli air dengan harga Rp150.000 hingga Rp170.000. Aiot tersebut didatangkan dari wilayah Kabupayen Sleman dan Bantul. "Satu tangki biasanya untuk 15 kepala keluarga, dan hanya cukup untuk tiga hari," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, hingga pertengahan Oktober wilayah terdampak kekeringan di Gunungkidul terus meluas. Hingga saat ini sudah ada 16 kecamatan yang mengalami krisis air. “Terakhir Kecamatan Karangmojo masuk sebagai wilayah yang terdampak kekeringan,” katanya, Minggu (13/10/2019).

Menurut Edy, meski wilayah terdampak meluas, peningkatan status kekeringan belum dilakukan. Hal ini dikarenakan mengacu pada anggaran yang dimiliki oleh BPBD. “Masih ada anggarannya. Apalagi bantuan dari pihak ketiga juga masih banyak. Nanti, kalau dari total anggaran Rp530 juta sudah habis maka bisa mengambil opsi meningkatkan status menjadi darurat kekeringan,” katanya.