Stok Ikan Sleman Diklaim Melimpah

Salah seorang anggota KPI Mina Sayur, Sarjiyanto memberi makan ikan di kolam milik kelompoknya, di Dusun Warak Lor, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Sabtu (9/8/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
16 Oktober 2019 22:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Stok ikan di Sleman terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lalu, ketersediaan ikan di Kabupaten Sleman mencapai 33,99 kilogram (kg) per kapita per tahun, meningkat sebesar 3,16% jika dibandingkan dengan 2017 yang hanya sebesar 32,95 kg per kapita per tahun.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan sektor pertanian, perikanan dan pangan di Kabupaten Sleman saat ini masih menjadi sektor unggulan dalam dinamika dan struktur perekonomian daerah. “Tahun lalu, produksi ikan mencapai 249.863 ton dengan nilai konsumsi masyarakat Sleman sebanyak 172.492 ton. Sedangkan surplus beras di Sleman tahun lalu sebanyak 78.867 ton dengan luas lahan sawah yaitu 18.137 hektare,” ujar dia saat membuka Gelar Potensi di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Penyuluh Pertanian, Pangan, dan Perikanan (UPTD BP4) Wilayah I, Moyudan, Sleman, Selasa (15/10/2019).

Dia juga mengklaim tingkat ketersediaan ikan konsumsi di Sleman lebih tinggi ketimbang tingkat ketersediaan ikan konsumsi di DIY yang hanya sebesar 32,16 kg per kapita untuk 2018,” ujar Sri Muslimatun.

Meski begitu, peningkatan usaha pertanian menurut dia tidak hanya menekankan pada kemampuan produksi semata, namun juga bagaimana teknik pemasarannya. Itulah sebabnya, kegiatan Gelar Potensi yang diselenggarakan secara terpadu dapat menjadi event strategis dan terintegrasi untuk mengembangkan jaringan pasar bagi produk-produk pertanian. “Bahkan dengan kemudahan media online saat ini tengah menjadi trend dunia usaha tentunya membuka pangsa pasar produk pertanian,” kata Muslimatun.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Heru Saptono menyampaikan harapannya dengan diselenggarakan Gelar Potensi ini dapat mendekatkan produsen dan konsumen sehingga terjadinya transaksi dalam jumlah besar. “Kelompok wanita tani [KWT] yang sudah bisa menghasilkan produk ini lebih dekat ke konsumen harapannya nanti dapat meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah Moyudan,” kata Heru.