Butet Kartaredjasa: Akhirnya Djaduk Meninggal di Pangkuan Istri

Butet Kartaredjasa memberikan keterangan pers terkait kematian adiknya, Djaduk Ferianto, Rabu (13/11/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
13 November 2019 12:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Kakak kandung Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa memastikan adiknya meninggal karena seranan jantung. "Akhirnya Djaduk meninggal dunia di pangkuan istri," kata Butet di rumah duka di Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Rabu (13/11/2019).

Djaduk meninggal di rumahnya Rabu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Butet mengatakan keluarga sudah mrndatangkan petugas medis dari Rumah Sakit Jogja International Hospital dan ketika sampai rumah memastikan Djaduk sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab sakit jantung yang dialami adik kandungnya tersebut. Namun akhir-akhir ini Djaduk memang tengah sibuk menyiapkan berbagai proyek pementasan, salah satunya Ngayogjazz yang akan digelar pada 16 November mendatang.

Even tahunan tersebut akan digelar di Kwagon, Godean, Sleman dan rencananya akan dibuka oleh Menkopolhukam Mahfud MD. "Para pendiri Ngayogjazz sudah diperintahkan Djaduk untuk naik ke panggung menemani pak Mahfud," kata Butet.

Pekerja Keras

Butet juga menilai Djaduk merupakan sosok yang pekerja keras yang tidak kenal lelah, selalu ingin tuntas dalam pekerjaannya. "Sehingga persiapan yang dilakukan selalu menyedot energi, menyedot konsentrasi yang melebihi dosisnya dan itulah Djaduk," kata Butet.

Selain mempersiapkan Ngayogjazz, Djaduk juga menyutradarai teater yang akan digelar di Surabaya, Jawa Timur dengan tema pensiunan 1949. Pada 14 November rencananya latihan untuk pementasan di Surabaya bersama teater Gandrik.

Teater Gandrik Syok Berat

Butet belum mengetahui apakah pentas di Surabaya akan berlanjut atau dibatalkan. Yang pasti, Teater Gandrik merasa kehilangan.

"Saya tak bisa membayangkan perasaan ati [hati] Teater Gandrik yang harus tampil penuh kejenakaan tapi situasi ati [hati] seperti yang saat ini saya rasakan butuh perjuanan untuk menata ati [hati]," ungkap Butet.

Namun khusus untuk Ngayogjazz, Butet berharap tetap lanjut sebagai monumen terakhir bagi Djaduk.