Mantan Pegawai Konsulat Inggris Mengaku Disiksa Polisi China

Sebuah mobil terbakar selama bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan polisi anti huru hara di Tsim Sha Tsui, Hong Kong, pada Selasa (19/11/2019). - Reuters
20 November 2019 23:07 WIB Renat Sofie Andriani Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Seorang mantan pegawai konsulat Inggris di Hong Kong, yang ditahan di China pada Agustus, mengaku  telah disiksa oleh polisi rahasia China dan dituduh menyulut bara kerusuhan di Hong Kong.

Simon Cheng membuat klaim tersebut dalam suatu unggahan di akun Facebook pada Rabu (20/11/2019), seperti dilansir dari Bloomberg. Kisah Cheng juga diulas oleh beberapa media termasuk Wall Street Journal, BBC, dan Daily Telegraph.

Cheng, warga negara Hong Kong yang bekerja untuk pemerintah Inggris selama hampir dua tahun, ditahan selama 15 hari dalam suatu perjalanan ke China daratan pada bulan Agustus.

Para pemeriksanya, tulis Cheng, menggambarkan dia sebagai dalang di balik aksi protes di Hong Kong. Salah seorang dari pemeriksa itu kemudian menyatakan akan menjebloskannya ke penjara tanpa batas waktu. Tekanan ini menyebabkannya sempat berpikir untuk bunuh diri.

Cheng mengatakan dengan terpaksa mengakui kesalahannya dan membagikan perincian tentang orang-orang di kelompok media sosialnya agar masa penahanannya dapat berlangsung lebih singkat.

Polisi China pun memperingatkannya untuk tidak menceritakan pengalaman tersebut jika tidak ingin menghadapi pembalasan.

“Saya [berani] berbicara sekarang karena kasus ini relevan dengan kepentingan publik untuk mengetahui proses peradilan yang cacat di China daratan,” tutur Cheng.

"Saya diborgol, ditutup matanya dan dikenakan tudung kepala,” ungkap pria berusia 29 tahun itu, seperti dikutip dari BBC, Rabu (20/11/2019).

Sejumlah sumber dalam pemerintah Inggris mengatakan bahwa klaim Cheng, yakni telah dipukuli dan dipaksa untuk menandatangani pengakuan, dapat dipercaya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengecam tindakan tersebut dan mendesak penyelidikan atas permasalahan ini.

“Kami sangat marah dengan penganiayaan memalukan yang dihadapi Cheng ketika dia menjalani penahanan di China daratan. Kami telah menegaskan harapan kami agar pihak berwenang China melakukan pemeriksaan dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab,” ujar Raab kepada BBC.

Tuduhan tersebut dapat meningkatkan ketegangan hubungan antara China dan Inggris, yang telah berulang kali teruji dalam beberapa bulan terakhir oleh gerakan dukungan untuk para demonstran pro-demokrasi di negara kota bekas jajahan Inggris itu.

Pemerintah Inggris tidak banyak mengomentari kasus Cheng sejak dia dibebaskan dari penahanan administratif karena apa yang dikatakan oleh media pemerintah China tentang pelanggaran terkait prostitusi.

Sementara itu, Cheng telah membantah tuduhan untuk penahanannya. Anggota parlemen oposisi berpendapat bahwa kasus Cheng menggambarkan sifat sewenang-wenang dari sistem hukum di China yang telah memicu protes di Hong Kong dalam lebih dari lima bulan terakhir.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia