Panjang Jalan At Grade di Monjali Sekitar 800 Meter

Ilustrasi pembangunan jalan tol. - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
30 Januari 2020 09:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pengajuan desain terbaru jalan tol di simpang Monjali diharapkan pada Februari ada kepastian persetujuan desain. Panjang jalan tol at grade di simpang Monjali sekitar 800 meter.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Totok Wijayanto mengatakan desain terbaru jalan tol di atas Ring Road sudah selesai dibuat. Hanya saja, saat ini desain tersebut masih berada di pusat. Rencananya minggu depan akan diajukan ke Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Simpang Monjali nanti akan dibuat melingkar untuk mengubah jalan yang ada saat ini. Sebab yang ada saat ini dipakai untuk jalan tol. Tapi nantilah biar Pusat nanti yang menyampaikan," katanya.

Secara desain, katanya, jalan tol yang dibangun secara elevated dibangun empat lajur. Dua lajur dibangun di sisi selatan Ring Road dan dua lajur sisi Utaranya. Dia mengakui ada kesulitan yang nanti akan dihadapi, hanya saja Totok meyakini kesulitan tersebut akan ditemukan solusinya.

Disinggung soal keberadaan fly over Jombor dengan adanya tol Jogja-Solo, Totok memastikan keberadaan fly over Jombor tidak akan tergusur. Fungsi jalur tol berbeda dengan fly over Jombor. "Untuk detail teknisnya biar disampaikan oleh Pusat. Yang jelas selama proses sosialisasi ini kami belum menghadapi kesulitan," katanya.

Totok mengatakan sama halnya RI Purwomartani, di Tirtoadi juga akan dibangun simpang susun. Jika di Purwomartani simpang susun dilengkapi in out tol, di Tirtoadi hanya dilengkapi dengan fasilitas in tol saja. "Jadi kalau di Purwomartani bisa masuk keluar, kalau di Tirtoadi hanya untuk pintu masuk saja. Nanti ada putaran," katanya.

Totok juga mengatakan untuk desain jalan tol ke Jogja-Kulonprogo sudah selesai. Hanya saja, proses sosialisasi diselesaikan setelah semua proses Jogja-Solo dan Jogja-Bawen selesai. Dia berharap agar masyarakat terdampak pembangunan jalan tol tidak takut ataupun khawatir akan pindah kemana.

"Jangan takut, warga terdampak tol nanti diberi ganti untung. Kalau belum dapat tempat atau lahan pengganti nanti Satker akan membantu tenaga dan mencarikan informasi lahan yang bisa dibeli," katanya.

Disinggung soal keinginan warga agar direlokasi, Totok mengatakan jika hal itu bisa saja dilakukan. Hanya saja, jika relokasi jadi pilihan maka warga terdampak tidak akan puas karena lokasi dan rumah yang dibangun tidak sesuai dengan keinginan warga. "Ada beberapa yang ingin direlokasi, tapi setelah saya jelaskan akhirnya mereka tidak mau," katanya.