Lima Kampung di Jogja Segera Punya Hidran

Petugas pemadam kebakaran Kota Yogyakarta mengalirkan air pada instalasi Hidran Kering yang terpasang di Kecamatan Kraton, Jogja. - Harian Jogja/Desi Suryanto
01 Februari 2020 08:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sebagai upaya pengurangan risiko kebakaran, Pemkot Jogja tahun ini akan menambah tiga jaringan hidran yang berlokasi di lima kampung. Dengan keberadaan hidran, diharapkan penanganan saat terjadi kebakarn bisa lebih cepat.

Kepala Dinas Kebakaran Kota Jogja, Nur Hidayat, menjelaskan ketiga jaringan hidran ini telah diusun detail enginering design (DED) pada tahun lalu. Lokasi jaringan hidran ini meliputi Notoprajan, Ngampilan, Purwodiningratan, Ngadiwinatan dan Pajeksan. "Ngampilan, Purwodiningratan dan Ngadiwinatan satu DED," katanya, Jumat (31/1).

Tahun lalu, kata dia, Pemkot sebenarnya telah menyusun enam DED, namun dengan pertimbangan anggaran, hanya tiga DED yang bisa direalisasikan tahun ini, sisanya akan dikerjakan pada 2021.

DED, kata dia, memiliki batas maksimal selama dua tahun, jika dalam waktu itu belum bisa direalisasikan, maka akan di-review kembali.

Pembangunan hidran di lima kampung itu didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk. Di perkampungan padat penduduk, mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk, shehingga perlu adanya jaringan hidran yang akan menyambungkan air dari mobil Damkar ke lokasi kebakaran di tengah permukiman.

Di Jogja ada beberapa hidran kampung, namun tidak semuanya dibangun oleh Pemkot, melainkan provinsi melalui program Kotaku. Hidran yang dibangun Pemkot yang dibangun sejak 2017 dan sudah jadi total saat ini tersebar di enam kampung. "Tahun ini kami akan mengadakan pendataan hidran kampung. Jadi nanti arahnya pemeratan kampung mana di Kota Jogja yang dimungkinkan berdasarkan kriteria yang ada untuk dibuat hidran. Termasuk kampung-kampung mana yang sudah ada hidrannya. Biar masyarakat juga tahu kampung mana saja yang perlu ada hidran," ujarnya.

Pengadaan hidran berbasis kampung, namun tidak selalu satu kampung satu hidran. Ia mencontohkan seperti di Ngampilan, Purwodningratan dan Ngadiwinatan menjadi satu DED karena kampungnya kecil dan berdekatan. "Jaringannya muter, nanti tinggal dibuat berapa siamese connection," ujarnya.