Karena Corona, Harga Jahe Putih di Jogja Kini Tembus Rp47.000/Kg

Warga sedang membeli bahan jamu tradisional, salah satunya adalah jahe putih di kios jamu tradisional yang ada di Pasar Kranggan, Kecamatan Jetis, Rabu (11/3/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
11 Maret 2020 18:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harga jahe di sejumlah pasar tradisional di Jogja terus melonjak. Salah satunya adalah harga jahe putih yang biasanya Rp30.000 per kilogram, sejak merebaknya wabah Corona (Covid-19), harga jahe tersebut melonjak jadi Rp47.000 per kilogram.

Salah satu pedagang jahe di Pasar Kranggan, Kecamatan Jetis, Nur, mengatakan kenaikan harga jahe putih terjadi secara bertahap. Selama tiga hari ini, misalnya, harga jahe putih naik sekitar Rp2000 sampai Rp3000 per harinya.

Dia mengatakan peningkatan harga jahe putih disebabkan oleh tingginya permintaan serta ketersediaan barang yang terbatas. Saking tingginya permintaan, kata dia, lima penyuplai jahe putih yang selama ini ia andalkan sebagai pemasok dagangan pun angkat tangan.

Alhasil, imbuh Nur, stok jahe dagangannya ludes terjual tak sampai setengah hari. "Beberapa hari ini saya bisa makan siang lebih awal sekitar pukul 11.00," kata Nur saat ditemui di lapaknya, Rabu (11/3/2020).

Tak jauh beda, Alimin, pedagang di Pasar Demangan, Kecamatan Gondokusuman. Dia mengakui stok jahe putih miliknya pun semakin menipis. Saat ini, kata dia, stok dagangan jahe putih yang ia miliki hanya tersisa kurang dari lima kilogram. “Itu pun yang kualitasnya jelek. Barangnya memang tidak ada dari penyuplainya. Sayang sekali, padahal dengan harga yang sekarang [mahal] saya harusnya bisa dapat pendapatan lumayan,” kata dia.

Salah satu pembeli, Mujilah, mengaku saat ini dia memang tak lagi bisa membeli jahe putih dalam jumla banyak. Jika biasanya dia membeli jahe sampai lima kilogram, kini dia hanya bisa membeli tak lebih dari seperempat kilogram. “Ya bagaimana lagi. Barangnya juga susah. Kalau saya sudah lama mengonsumsi jahe, terutama kalau saya dan suami sedang batuk,” ucap Mujilah.

Senada, Teguh, salah satu pedagang warung angkringan di kawasan Cokrodinigratan, Jetis. Jika biasanya jahe sekarung penuh seberat 10 kilogram yang dia kulak bertahan untuk dua pekan, kini baru sepekan saja sudah habis.

Meski begitu, dia mengaku belum berpikiran untuk menaikkan harga minuman jahe yang biasa ia jual. “Tidak. Belum kepikiran untuk menaikkan harga juga,” kata dia.