Seruni, Kepala Puskesmas Ngemplak 1: Dukungan Warga, Vitamin Paramedis

Dokter Seruni Anggraini, Kepala Puskesmas Ngemplak 1. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
06 Mei 2020 07:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Keterbatasan alat perlindungan diri (APD) di Puskemas, tidak menyurutkan paramedis garda depan penanganan Covid-19 untuk memerangi penyakit yang sudah merenggut banyak nyawa di dunia itu. Beruntung, masyarakat banyak yang mendukung keberadaan Puskesmas dengan support system yang disiapkan.

Bagi Kepala Puskesmas Ngemplak 1, dr. Seruni Anggraini, menjadi tugas berat bagi kepala Puskemas selama masa pandemi Covid-19 ini. Sebab selain harus meyakinkan paramedis serta berkoordinasi dengan lintas sektoral, ia juga harus mampu melayani masyarakat dengan baik. "Saya bersyukur kami bisa melewati ini dengan banyak dukungan," katanya belum lama ini.

Support system yang dilakukan oleh warga merupakan vitamin batin bagi paramedis. Selama ini, para tenaga medis masih ada yang khawatir tertular Covid-19. Meski begitu, mereka tetap berikhtiar, bekerja sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan.

"Dukungan warga ini menjadi penyemangat bagi kami. Di antara pegawai kami ada yang punya diabetes, punya penyakit jantung, punya bayi, yang tetap khawatir terpapar virus Covid-19. Tetapi mereka tetap melaksanakan tugasnya," katanya.

Meskipun bantuan warga berbentuk pemberian makanan tambahan (PMT), katanya, dukungan tersebut sangat penting bagi paramedis. Baginya, bantuan tersebut tidak hanya semata-mata masalah kesehatan tetapi juga dukungan kemanusiaan. "Ini menunjukkan kami di sini tidak sendiri. Jangan sampai ada stigma negatif bagi para tenaga medis. Beruntung, kami memiliki semangat yang sama untuk menjaga Ngemplak dengan tetap semangat," katanya.

Dengan pengelolaan managemen didukung dengan support system yang baik, paramedis masih leluasa bergerak memerangi pandemi Covid-19. "Masalah APD memang menjadi salah satu hal yang kami hadapi. Tapi kami lakukan penggunaan APD secara efektif dan efesien. Hal itu dikarenakan jumlah APD sangat terbatas," kata Seruni.

Tidak jarang, katanya, APD digunakan sampai tiga kali setelah dilakukan sterilisasi. "APD kami kelola dengan bijak sesuai level risiko yang dihadapi. Kami juga rasionalisasi anggaran, jelas untuk membeli APD yang harganya masih mahal," katanya.

Padahal, katanya, Puskemas apalagi Puskesmas rawat inap, menjadi fasilitas pertama yang menangani pasien bergejala Covid-19. Termasuk melakukan tracing terhadap ODP/PDP. Sehingga penggunaan APD dilakukan sangat ketat agar siap saat menghadapi puncak pandemi.

"Sebagai Puskesmas 24 jam, kami juga melayani masyarakat. Terutama ibu-ibu hamil yang akan melahirkan. Meskipun SDM kami di era pandemi Covid-19 ini banyak tersedot, tapi kami tetap memberikan pelayanan sesuai protokol," katanya.

Dia berharap masyarakat tetap mematuhi protokol penanganan Covid-19. Warga yang memeriksa kondisi kesehatannya ke Puskesmas untuk jujur agar penanganan bisa dilakukan dengan baik. "Sejauh ini baru PDP, penyakit paru kronis tapi bukan asma tapi meninggal dunia. Dengan protap yang ada, pasien asma sudah kami ingatkan agar rutin untuk mengonsumsi obat," katanya.