Tren Penyebaran Kasus Leptospirosis Menurun

Ilustrasi leptospirosis, - JIBI
11 Mei 2020 21:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus penyebaran leptospirosis di Gunungkidul cenderung menurun. Hal ini terlihat dalam penyebaran kasus dari tahun ke tahun.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, kasus leptosprosis sempat melonjak di 2017 dengan jumlah warga terserang sebanyak 64 jiwa. Setahun berselang jumlah turun menjadi 17 kasus dan di 2019 kasus warga yang terjangkit leptospirosis tercatat ada 12 orang. Untuk 2020, total hingga Mei sudah ada empat warga dinyatakan terjangkit leptospirosis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul, Sumitro, mengatakan untuk tahun ini sudah ada empat warga yang terjangkit. Namun keempat pasien tersebut sudah dinyatakan sembuh. “Berbeda dengan tahun lalu ada 12 kasus dan dua pasien dinyatakan meninggal dunia. Untuk saat ini seluruh pasien bisa disembuhkan,” kata Sumitro kepada wartawan, Senin (11/5/2020).

Menurut dia, dilihat dari sisi kasus ada tren penurunan penyebaran leptospirosis. Dibandingkan dengan penyebaran di tahun-tahun sebelumnya, saat ini jumlahnya menurun. “Memang 2020 masih panjang, tetapi dilihat dari tren penyebaran, leptospirosis sama seperti kasus demam berdarah dengue [DBD] yang banyak menyebar saat musim hujan,” katanya.

Sumitro menjelaskan leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang disebarkan oleh hewan, salah satunya melalui air kencing tikus. Potensi penyebaran semakin besar apabila seseorang memiliki luka di tubuh, khususnya bagian tangan dan kaki. Pasalnya, bakteri tersebut dapat masuk dan berkembang di kulit yang mengalami luka terbuka. “Harus tetap diwaspadai. Sebab, meski kasus turun kalau terlambat penanganan bisa berakibat fatal,” katanya.

Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan penyebaran leptospirosis harus diwaspadai karena penyebaran tidak hanya di wilayah yang basah atau di area pertanian.

Menurut dia, potensi penyebaran juga erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan. Dewi mengimbau kepada masyarakat untuk terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat dan cuci tangan menggunakan sabun. “Kami terus sosialisasikan ke masyarakat tentang pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

Kepala Seksi Kesehatan Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Retno Widiastuti, mengatakan area pertanian menjadi salah satu tempat yang bisa memicu penyebaran leptospirosis. Guna menghindari penyakit ini, petani diimbau untuk beraktivitas di sawah saat Matahari sudah terbit karena bakteri tidak tahan dengan hawa panas. “Yang tak kalah penting, gunakan alat perlindungan diri saat beraktivitas,” katanya beberapa waktu lalu.