Di Sela-sela Kuliah Online, Mahasiswa UNY Jadi Guru Privat Siswa Sekolah

Kampus Universitas Negeri Yogyakarta - uny.ac.id
13 Mei 2020 13:27 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Di sela-sela kegiatan perkuliahan daring, sejumlah mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) juga menjadi relawan belajar bagi siswa sekolah dasar dan menengah di DIY yang sedang belajar dari rumah

Kendala belajar siswa selama pandemi Covid-19 ini disikapi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA UNY dengan membuat program relawan belajar untuk memberikan pendampingan bagi siswa selama belajar di rumah.

Ketua BEM FMIPA UNY, Achmad Muhaemin menuturkan program ini sudah dimulai sejak sebulan yang lalu tepatnya tanggal 14 April. "Kegiatannya seperti tentor les privat, tetapi pelaksanaannya daring lewat WhatsApp," kata Achmad kepada Harian Jogja, Rabu (13/4/2020). Program ini gratis dan ditujukan bagi siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Achmad menjelaskan metode pembelajaran yang dilakukan oleh 13 relawan dari BEM FMIPA UNY ialah memfasilitasi siswa untuk berkonsultasi mengenai materi pelajaran atau tugas sekolah yang dirasa kurang paham melalui grup kelas maupun konsultasi personal lewat WhatsApp. Mata pelajaran (mapel) yang difasilitasi yaitu IPA, Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, dan Bahasa Inggris.

"Metode kelasnya tergantung mapel, ada yang dibuatkan grup. Misalnya mapel Bahasa Inggis karena karakter materinya hampir sama di beberapa jenjang kelas," tutur mahasiswa Prodi Pendidikan IPA ini.

Hingga kini, ada 488 siswa yang menggunakan layanan ini dari berbagai jenjang kelas dan sekolah. Bahkan siswanya tak hanya berasal dari DIY, melainkan ada pula dari Ponorogo dan Jawa Barat.

Mulanya konsultasi pembelajaran dimulai dari pukul 13.00-20.00 WIB. Namun, memasuki bulan Ramadan, mereka mengubah jadwal menjadi pukul 13.00-17.00 WIB di sela-sela aktivitas mereka mengikuti perkuliahan daring.

Menurutnya, tidak semua siswa siap dengan perubahan metode pembelajaran dari tatap muka menjadi daring ini lantaran kondisinya mendadak tanpa kesiapan matang. "Belum sepenuhnya siswa siap, karena pembelajaran online ini dilaksanakan bukan dengan kesiapan yang matang. Ini musibah yang memaksa setiap instansi maupun individu terpelajar untuk beradaptasi dengan hal baru. Mau nggak mau, kita harus dinamis," ujarnya.

Selain berguna untuk membantu siswa sekolah belajar di rumah, program ini dinilai juga menjadi sarana pengaplikasian ilmu yang didapat selama perkuliahan. Achmad bahkan berharap program ini bisa terus berjalan meskipun tidak dalam masa pandemi dan SfH sudah berakhir.