Tim Riset Wolbachia Mampu Turunkan Kasus DBD, Ini Tanggapan Dinkes Kota Jogja

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
27 Agustus 2020 08:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kesehatan Kota Jogja menilai jika pengaplikasian metode Wolbachia dalam penanganan upaya penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota Jogja pada 2016 lalu belum bisa membuktikan jika metode tersebut cukup signifikan terhadap penurunan kasus DBD di kota Jogja.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja, Endang Sri Rahayu mengatakan pada 2016 angka kasus DBD di wilayah kota Jogja berada di kisaran angka 1.705 kasus. Namun, angka tinggi kasus DBD tersebut juga terjadi di wilayah DIY.

BACA JUGA : Mengenal Teknologi Wolbachia, Pencegahan DBD

"Artinya pada 2016 lalu memang kasus DBD itu sedang berada di puncaknya, di nasional maupun di wilayah DIY. Setelah 2016, angka kasus memang turun tapi itu juga terjadi di seluruh kabupaten atau kota di DIY. Artinya, penurunan itu belum bisa dibuktikan apakah benar imbas dari metode Wolbachia atau bukan," ungkap Endang saat dikonfirmasi pada Rabu (26/8/2020).

Endang sebelumnya mengatakan jika kota Jogja yang di tahun-tahun sebelumnya menempati urutan satu atau dua untuk kasus DBD di DIY, tahun ini mengalami perbedaan.

"Dulu kota Jogja ganti-gantian dengan Sleman. Tahun ini kota Jogja menempati urutan empat. Soal infeksi ganda DBD dan Covid-19, pasien meninggal kan memang belum semua sempat dilakukan swab, untuk yang pasien PDP Covid-19 ya," ujar Endang.

Angka DBD sendiri mengalami penurunan di kota Jogja jika dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, angka DBD di wilayah kota Jogja berada di angka 478. Sedangkan, untuk tahun 2020 ini, angka kasus DBD berada di angka 239.

BACA JUGA : Cerita Sukses Perjalanan Satu Dekade Para Peneliti Nyamuk

"Angka kasus DBD tahun ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Tahun ini berada di angka 239 per 12 Juni. Masyarakat diimbau untuk tetap melaksanakan protokol pencegahan penularan DBD di samping protokol Covid-19," terangnya.

Lebih lanjut, langkah paling efektif yang ampuh untuk memberantas jentik nyamuk Aedes Aegypti adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala.

"Kalau dilakukan PSN, sarang nyamuk bisa bertelur tapi tidak bisa menjadi nyamuk dewasa. Upaya tersebut yang harus dilakukan oleh masyarakat agar terhindar dari penyakit DBD," ucapnya.

BACA JUGA : Hore... Tim Riset Jogja Berhasil Turunkan Kasus DBD hingga

Sosialisasi atau imbauan melalui promosi kesehatan juga terus dilakukan oleh Endang. Bidang promosi kesehatan, lanjut Endang, memang tengah okus terhadap penanganan Covid-19. Namun, masyarakat juga diharapkan tidak melupakan ancaman DBD.

"Mobil keliling milik bidang promkes juga terus berkeliling ke tiap-tiap kelurahan untuk melakukan imbauan," katanya.