Malioboro Bebas Kendaraan Hampir 2 Pekan, Pedagang Ketar-Ketir

Jalur pedestrian di Jalan Malioboro, Kamis (22/10/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
02 November 2020 19:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Malioboro bebas kendaraan selama hampir dua pekan mulai diterapkan pada Selasa (3/11/2020) hingga 15 November mendatang. Dalam skema lalu lintas baru ini Jln. Mataram dan Jln. Letjen Suprapto akan berlaku searah. Rekayasa ini mendapat beberapa respons dari para pengusaha di dua jalan tersebut.

Salah satu usaha yang terletak di ujung utara Jln. Mataram yang telah banyak dikenal khalayak adalah pusat perdagangan sepatu. Salah satu pedagang sepatu, Nova mengaku khawatir akan adanya penurunan pembeli dengan rekayasa ini. Menurutnya skema lalu lintas terbaru ini bisa membuat pembeli susah untuk menuju kiosnya karena jalan diberlakukan searah saja.

"Kalau menurut kami yang lagi berdagang, kami tuh agak sedikit merasa mendapat ada ruginya juga. Kalau searah itu kan otomatis pembeli harus muter. Pembeli juga agak repot. Banyak kemungkinan besar kalau searah gitu kalau mau beli udah mikir, ah udah jauh males," tuturnya ditemui Senin (2/11/2020).

Dijelaskan Nova, sebenarnya dengan sistem dua arah di Jln. Mataram kemacetan tidak sering terjadi. Dia membeberkan jika kemacetan sesekali muncul karena disebabkan pengendara yang putar balik. "Tapi kalau masih kaya gini jalurnya utara selatan masih ada pertimbangan, kalau ada yang dari utara masih bisa berhenti apa gitu ya kan, kalau yang dari selatan lebih gampang," ujarnya.

Nova tak mengelak jika skema searah di Jln. Mataram ini juga berdampak positif yakni saat penurunan barang. Dia menjelaskan jika penurunan stok barang tak jarang dilakukan siang hari menggunakan mobil box. Hal itu menurutnya akan membuat bongkar muat barang lebih lengang. "Kalau menurut apanya lebih bebas lebih lengang itu tadi cuma dampaknya lebih ke pembeli," terangnya.

Pembeli di kios Nova tak hanya warga lokal, tetapi juga banyak wisatawan. Khusus wisatawan tak jarang mereka sebenarnya hanya melintas namun ketika melihat kios sepatu jadi tertarik berhenti dan membeli. "Banyaknya wisatawan apalagi dari utara berhenti di sini atau di toko lainnya. Kadang enggak mau ke sini kebetulan lewat terus berhenti pengen beli. Jadi kebetulan lewat dari sana jadi mereka berhenti mau lihat-lihat, [rekayasa] ada sedikit dampak," tukasnya.

Kendati ditaksir akan timbul kerugian, Nova tetap mendukung keputusan pemerintah. Dirinya dan bersama pedagang lain telah mendapatkan pengumuman rekayasa arus lalu lintas ini dari informasi yang disebar melalui grup. "Harapan saya gimana baiknya aja, tapi menurut kami dari penjual pedagang ya yang saya sampaikan tadi," tutupnya.

BACA JUGA: Hari Ini Jogja Tambah 32 Kasus Baru, Perempuan 46 Tahun Meninggal karena Corona

Tanggapan lain juga dilontarkan pedagang Soto di Jln. Letjen Suprapto yang juga alami perubahan arus lalu lintas jadi searah. Pedagang soto, Arwan mengaku rekayasa yang akan diberlakukan terbilang kurang bagus pada usaha soto milik juragannya. "Kurang bagus, ya kan yang dari sana [selatan] jadi susah kalau mau makan di sini. Kalau mau makan harus muter jauh," ujarnya.

Meski demikian Arwan mengaku jika terkadang akhir pekan seperti pekan lalu kemacetan dari APILL ujung selatan Jln. Letjen Suprapto mencapai sekitar 300 meter sampai ke lapaknya. "Macet sampai sini. Kemungkinan karena jalannya sempit, tapi kalau ditetapkan searah mungkin terurai tapi sebagai pedagang takutnya banyak konsumen susah kesini, konsumen [biasanya] dari dua arah. Ya mungkin bisa pengaruh, tapi kalau ditetapkan ya mendukung saja," tandasnya.