BPPTKG Tegaskan Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi

Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DIY, Rabu (18/11/2020). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
06 Desember 2020 19:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) berkesimpulan jika aktivitas seismik maupun deformasi yang terjadi di Gunung Merapi masih tinggi.

Guguran yang terjadi di Merapi juga meningkat hingga menyebabkan perubahan morfologi di puncak Gunung Merapi. Tidak hanya itu, rekahan juga terbentuk di sisi barat-barat laut. Konsentrasi gas karbondioksida juga meningkat.

"Indikasi tersebut menunjukkan proses desakan magma yang akan keluar ke permukaan. Wilayah barat-barat laut juga menjadi wilayah yang berada dalam bahaya Gunung Merapi jika sewaktu-waktu erupsi. Hal tersebut berdasarkan data deformasi dan perubahan morfologi lereng Gunung Merapi," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Minggu (6/12/2020).

Baca juga: BPPTKG: Terdengar Satu Kali Suara Guguran Merapi

Hanik menegaskan jika erupsi secara eksplosif yang ditimbulkan oleh Gunung Merapi kekuatannya tidak akan sebesar erupsi 2010. Hal tersebut berdasarkan kepada sejumlah hal. Di antaranya, tidak terjadi kegempaan dalam menunjukkan tidak adanya tekanan berlebihan di dapur magma.

"Kedua, migrasi magma berlangsung secara pelan dengan indikator seismisitas VTB yang terjadi. Ketiga, jumlah dan pola peningkatan kegempaan dan deformasi EDM mengikuti pola erupsi 2006 yang mana bersifat efusif. Terakhir, banyak terjadinya gempa hembusan yang menandakan lepasnya gas," ungkap Hanik.

Oleh karena itu, BPPTKG mengimbau agar masyarakat senantiasa mengikuti anjuran pemerintah, dalam hal ini pemerintah kabupaten Sleman maupun Pemda DIY serta tidak terpengaruh dengan adanya informasi yang tidak jelas sumbernya.

Baca juga: Sehari, Merapi Alami 32 Kali Guguran & 39 Kali Gempa Vulkanik Dangkal

Sementara itu, berdasarkan data pemerintah kecamatan Cangkringan pada Jumat (5/12/2020) lalu, jumlah pengungsi yang berada di barak pengungsian balai desa Glagaharjo Cangkringan Sleman sebanyak 240 orang. Sedangkan, hewan ternak yang diungsikan sebanyak 166 ekor.

Camat Cangkringan Suparmono sebelumnya mengatakan jika pihaknya sudah menyediakan sejumlah agenda bagi pengungsi yang ada di barak pengungsian. Selama seminggu, pengungsi sudah diberikan jadwal aktivitas bagi pengungsi.

"Sejumlah komunitas yang ada di Jogja kami gandeng agar bisa memberikan pelatihan membuat kerajinan. Sasarannya adalah pengungsi kelompok umur dewasa. Dikarenakan, mereka (pengungsi kelompok umur dewasa) kan masih berpotensi untuk membuat kerajinan tangan," pungkasnya.