Berhenti dari PNS Wanita Asal Jogja Ini Pilih Terjun ke Politik

Rini Hapsari/Ist
24 Februari 2021 19:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Bekerja dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) biasanya menjadi incaran para pencari kerja. Maklum, menjadi abdi negara akan memberikan tawaran kemapanan hidup berupa gaji, fasilitas, sampai pendapatan saat usia pensiun. Maka banyak orang merasa bangga dan nyaman sebagai PNS. Namun ada seorang wanita yang dengan berani keluar dari zona nyaman tersebut. Dia adalah Rini Hapsari, seorang perempuan gigih yang kini sebagai anggota DPRD Kota Jogja.

Cerita itu berawal saat Rini berbekal ijazah tamatan strata satu IKIP Negeri Yogyakarta, Rini kemudian mendaftarkan sebagai calon pegawai negeri, pada tahun 1986. Ia sukses diterima sebagai PNS sebagai pengajar di sekolahan yang saat itu dengan nama SMEA Bopkri Yogyakarta. Namun sebagai seorang ibu, ternyata tidak mudah menjalani kerja mengajar yang saat itu ditugaskan di jam sore hari. "Sebab saat itu, saya juga harus mengurus anak yang masih kecil, maka saya sempat mengajukan mengajar di pagi hari, yang kemudian saya dipindah ke sekolahan lain yang bisa mengajar di waktu pagi," katanya.

Rini pun bekerja di tempat barunya, di era saat itu bernama SMEA I di Depok, Sleman. Di tempat barunya itu Rini pun menjalani aktivitas kerja sebagai guru dalam waktu cukup lama, hingga kemudian ia mengambil keputusan besar dalam perjalanan karir hidup yaitu mengundurkan diri bekerja di sekolahan tersebut dan mundur dari status PNS, pada tahun 1996. Saat itu, Rini memilih bekerja mendampingi sang suami, Prio Sunggono, seorang pengusaha kayu. "Disamping itu memang ada persoalan yang intinya ada ketidaksesuaian bagaimana mengelola lembaga pendidikan tempat saya mengajar," terangnya.

Rini mengaku hampir sepuluh tahun bekerja sebagai PNS, namun akhirnya di tengah perjalanan ia memutuskan mengundurkan diri. Menurutnya, walaupun dirasa berat untuk berhenti sebagai PNS, namun itulah masa lalu dan orang hidup harus memiliki pilihan.
Terjun Dunia Politik

Berhenti dari PNS, Rini lebih fokus mengurus anak-anak dan mendukung usaha suaminya. Namun tenyata tidak berhenti disitu, Ibu tiga anak itu kembali membuat keputusan besar yang tidak lazim dilakukan umumnya seorang perempuan. Rini memutuskan terjun ke dunia politik dengan terlibat aktif sebagai Wakil Bendahara Pemenangan Pasangan Calon Presiden Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Yusuf Kalla, di DIY, saat maju dalam Pilpres 2004. "Mengapa saya terjun ke politik? awalnya karena saya memang menyambut baik ajakan bapak (suami), kebetulan bapak yang memiliki background pedagang (pengusaha) saat itu sudah masuk di Partai Demokrat, dahulu, " katanya.

Berada dalam barisan pemenang Pilpres 2004, semakin membuka peluang Rini untuk bergabung dalam kepengurusan Partai Demokrat. Rini ditunjuk Partai Demokrat sebagai calon legislatif (caleg) DPRD DIY dari dapil Sleman, pada pemilu 2004. Saat itu, keberadaan Rini dalam daftar caleg cendrung untuk memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan.

Di era 2004-2009, kiprah politik Rini dilanjutkan dengan menempati sebagai Bendahara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Sleman. Dari sini Rini mulai menunjukan kapasitasnya sebagai srikandi politik yang diperhitungkan. Ketika itu, walaupun akhirnya tak mendapatkan suara mayoritas, namun Rini tidak minder bersaing maju dengan calon lain, sebagai calon Ketua dalam perhelatan Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Partai Demokrat Sleman. "Saat itu ada calon lainnya yaitu Pak Wahyono yang kemudian pada 2009-2014 duduk sebagai anggota DPRD DIY. Bagi saya tidak apa-apa, namanya juga politik," terangnya.

Tidak mendapatkan posisi nomor satu di Demokrat Sleman juga tak menyurutkan langkah-langkah politiknya. Saat pileg 2009, Rini kembali maju sebagai caleg DPRD Sleman dari daerah pemilihan IV yang meliputi Kecamatan Depok dan Berbah. Berbekal pengalaman politik yang pernah dilakoninya, Rini akhirnya berhasil keluar dari tembok kegagalan, dan berhasil menempati sebagai anggota DPRD Sleman periode 2009-2021. "Saya juga diuntungkan karena era saat itu Demokrat mencapai kejayaan karena berhasil keluar sebagai pemenang pemilu 2009, Pak SBY yang kembali menang dalam Pilpres untuk periode kedua memiliki efek besar sampai ke daerah," terangnya.

Menjadi legislator, nyali srikandi Demokrat itu kembali diuji. Dirinya kejatuhan tugas naik mimbar parlemen guna membacakan sikap Fraksi Partai Demokrat Sleman terkait Rancangan Undang Undang Keistimewaan (RUU) Yogyakarta yang kemudian disahkan menjadi UUK pada tahun 2012. Ketika itu Partai Demokrat menjadi sorotan pengunjuk rasa karena perbedaan pandangan tentang keistimewaan DIY. "Yang perlu diluruskan bahwa kami tidak memasalahkan keistimewaan, kami juga setuju dengan keistimewaan. Namun persepsi publik terlanjur miring kepada partai kami, hingga muncul gelombang unjukrasa. Ditengah situasi itu saya harus membacakan sikap fraksi kami, dan saya mengetahui konsekuensinya," ungkapnya.

Usai satu periode duduk di DPRD Sleman, Rini kemudian memilih untuk tidak mencalonkan diri sebagai caleg, namun tetap aktif dalam kepengurusan Partai. Baru di pemilu 2019, Rini merasa terpanggil untuk kembali maju sebagau caleg DPRD Kota Jogja, namun gagal karena hanya meraih suara terbanyak kedua dibawah Samsul Hadi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Jogja. Karena gagal meraih suara terbanyak, Rini pun lebih fokus mengurus bisnis usahanya membantu suami. Namun, demikian Rini bukan sosok politisi mutungan, dirinya tetap aktif di kepengurusan sebagai Wakil Ketua II DPC Partai Demokrat Kota Jogja.

Tak terduga, seiring berjalannya waktu takdir politik datang menghampiri Rini. Tepatnya pada tanggal 8 Januari 2021 ia secara resmi dilantik atau terjadi Pergantian Antar Waktu (PAW) sebagai anggota DPRD Kota Jogja untuk mengisi kekosongan kursi dari Samsul Hadi karena yang bersangkutan meninggal dunia. "Tentunya kami menghormati almarhum dan keluarganya, karena itu baru setelah 40 hari almarhum baru dilakukan proses pengurusan PAW," terangnya.

Selain menjabat sebagai anggota DPRD Kota Jogja, Rini juga menerima sampur kepemimpinan sebagai Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kota Jogja sampai periode berakhir 2023. DPP Partai Demokrat menunjuk Rini untuk meneruskan kepemimpinan almarhum Samsul Hadi, periode 2018-2023. "Bayangan saya menjadi Plt untuk menyiapkan Muscab luar biasa akan tetapi ternyata dalam SK penunjukan dari DPP Partai Demokrat menyebutkan sampai periode lima tahunan berakhir yaitu pada 2023," terangnya.

Langkah Politik

Memikul dua jabatan politik sekaligus baik sebagai anggota DPRD Kota Jogja dan Plt Ketua DPC Partai Demokrat, bukanlah tugas yang ringan. Rini juga harus melakukan konsolidasi Partai Demokrat Kota Jogja hingga tingkat basis. "Bismillah, kita jalani saja," ucap Rini.
Rini memahami realitas peta politik yang menempatkan Demokrat tidak lagi seperti di era Presiden SBY. Di era itu jumlah perwakilan Demokrat di DPRD Kota Jogja mencapai 10 kursi, saat ini tinggal dua kursi. "Ya, ini kami fahami sebagai dinamika politik. Partai kami punya pengalaman jaya, dan kedepan kita targetkan memiliki fraksi di DPRD Kota Jogja, berarti minimal empat kursi, syukur-syukur lima kursi jadi masing masing daerah pemilihan memiliki satu perwakilan," katanya.
Namun Rini memastikan strategi yang dilakukan dalam rangka mengawal program pemerintah yang pro-rakyat. Sebagai misal, di era pandemi saat ini banyak korban yang harus melakukan isolasi mandiri namun mereka kurang mendapatkan perhatian. "Pengalaman di lapangan, dari dia terdeteksi positif, kemudiaan harus karantina di rumah. Nah ini peran puskemas, Tim Gugus kayaknya kurang greget," ungkapnya.

Rini berkomitmen untuk sering-sering menyapa masyarakat. Seiring itu melakukan penguatan-penguatan di 14 seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kota Jogja. "Seluruh PAC sudah terbentuk, belum lama ini kami lakukan konsolidasi dengan menghadirkan seluruh perwakilan PAC, hadir juga dari DPD," ucap dia.
Rini saat ini juga menjadi Ketua PKK di RT 36 Pilihan Permai, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Menariknya, posisi sebagai Ketua PKK disandang sejak tahun 1991 dan masih melekat hingga saat ini, walaupun posisi Ketua RT sudah berganti-ganti. "Iya, sejak dulu masih di jadikan Ibu PKK di RT, kebetulan saat ini Ketua RT-nya bapak sendiri. Namun, sebelumnya berganti-ganti Pak RT, untuk Ketua PKK masih melekat kepada saya," terangnya.
Menurutnya, menjadi Ketua PKK memberikan banyak pelajaran terutama berkaitan perjuangan dan pengorbanan sosial. Sejak di bangku sekolahan ia juga sudah berkecimpung terjun di organisasi seperti aktif di OSIS, mewakili kegiatan Jambore tahun 1977 dari SMP Negeri II Sleman. Rini sendiri mengawali pendidikan di SD Negeri III Sleman, SMP Negeri II Sleman, SMA Negeri Ketandan Kota Yogyakarta dan IKIP Negeri Yogyakarta.

Kaum Milenial Terjun Politik
Usia produktif yang biasa disebut sebagai kaum milenial saat ini menjadi incaran banyak partai politik. Mereka berlomba-lomba menggaet segmen tersebut menjadi bagian kekuatan partai politik. "Kalau bicara partai yang paling merepresentasikan anak-anak milenial sepertinya Partai Demokrat, ya. Buktinya Ketua Umum kami (Agus Harimurti Yudhoyono) usianya masih muda dan tampak milenial banget," ucapnya.

Hanya saja, di satu sisi menggaet kaum milenial tidaklah mudah karena mereka cendrung sudah memiliki dunia sendiri dan ada kecendrungan apatis terhadap politik. "Sekarang anak anak muda ini kreativitasnya banyak maka mari kita turun, mari kita rasakan dulu politik itu bagaimana, baru nanti beropini di politik itu bagaimana. Jadi rasakan dulu," ucap Rini.

Menurutnya sudah sewajarnya berproses diri melalui partai politik. Sebetulnya politik itu menyenangkan, karena melalui politik bisa membantu banyak orang. Selain itu akan belajar banyak tantangan bagaimana mengelola negara secara baik. "Masuk dulu, rasakan dulu bagaimana berada di partai politik. Jangan menjust dulu sebelum merasakan. Di politik akan tambah teman banyak, tambah pintar, kita jadi mengetahui oh ternyata mengelola negara itu tidak mudah," pesan Rini.