Lomba Tata Rias dan Pranatacara Perkuat Identitas Budaya Jogja

Peserta Lomba Pranatacara dan Tata Rias Busana Pengantin bergaya di atas panggung di Horison Ultima Riss Malioboro, Jogja, pada Rabu (24/3/2021). - Ist/dok
24 Maret 2021 18:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Dalam rangka penguatan identitas dan karakteristik budaya yang bersumber dari nilai-nilai tradisi di DIY, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menyelenggarakan lomba pranatacara dan tata rias busana pengantin gaya Jogja.

Menurut Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Disbud DIY, Eni Lestari Rahayu, lomba ini berupaya memberi ruang ekspresi dan meningkatkan kualitas regenerasi perias dan pranatacara. Salah satu poinnya dengan tetap berpedoman pada aturan baku yang ada.

“Lomba pada hari ini merupakan tindak lanjut Workshop dan Sosialisasi Tutorial Tujuh Tata Rias Pengantin Gaya Jogja,” kata Eni dalam sambutan acara yang berlangsung di Horison Ultima Riss Malioboro, Jogja, pada Rabu (24/3/2021).

Baca juga: Merokok Sembarangan di Jogja, Siap-Siap Fotonya Viral

Adapun tujuh Tata Rias Pengantin (TRP) dalam workshop yaitu TRP Jogja Paes Ageng, TRP Jogja Putri, TRP Jogja Paes Ageng Jangan Menir, TRP Jogja Paes Ageng Kanigaran, TRP Kasatrian Ageng Selikuran, TRP Kasatriyan Ageng dan TRP Jogja Berkerudung Tanpa Paes.

Untuk lomba kali ini, materinya berupa Pranatacara dan TRP Jogja Putri serta Pranatara dan TRP Paes Ageng Jangan Menir. Total hadiah untuk lima kategori pemenang sejumlah Rp28,5juta. “Peserta lomba merupakan utusan dari Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati kabupaten dan kota se-DIY, dan utusan dari Paguyuban Panatacara dari kabupaten dan kota se-DIY,” kata Eni.

Baca juga: Inspektorat DIY: Pengelolaan Aset di Bantul Menyalahi Aturan

Menurut Plt. Kepala Disbud DIY Sumadi, kiprah Harpi Melati DIY dan Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY) telah diakui. Harpi Melati dan PPY bergerak pada tradisi pernikahan yang sakral, khususnya bagi masyarakat Jawa. Dalam prosesnya, ada banyak tahapan yang perlu dilalui dan uborampe yang harus dipersiapkan.

“Di dalam prosesi pengantin adat Jawa banyak terkandung nilai-nilai budaya luhur. Tugas kita semua untuk melestarikan agar bisa terus berkembang sampai ke anak cucu, dan tidak hilang ditelan zaman,” kata Sumadi.

Mengutip sambutan GKBRAA Paku Alam Selaku Ketua PKK DIY pada pelantikan dan pengukuhan Dewan Pimpinan Daerah Harpi Melati DIY, Sumadi mengatakan keberadaan Harpi harus terus dipertahankan. Perlu juga untuk berinovasi tanpa menghilangkan yang baku.

“Rias pengantin Jawa tetap memiliki pakem tersendiri. Fenomena Make Up Artis atau sering kita sebut MUA menjadi trend di mana-mana. Lalu banyak pengantin latah ingin dirias dengan MUA. Di sinilah peran Harpi untuk bisa mengedukasi masyarakat tentang tata rias pengantin Jawa, khususnya Jogja,” kata Sumadi.