Vaksinasi Mulai Digelar di Kampung & Padukuhan

Vaksinasi pelajar SMP dan SMA Budi Utama, Sinduadi, Mlati, Sleman, Rabu (14/7/2021)-Harian Jogja - Gigih M Hanafi
23 Agustus 2021 17:37 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kabupaten dan kota di DIY mulai mengelar vaksinasi di perkampungan. Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja sudah lebih awal menggelar vaksinasi di beberapa kampung dan RT sejak beberapa waktu lalu.  

Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, sudah banyak wilayah di Kota Jogja yang vaksinasi dengan model ini.“Pelaksanaan vaksinasi ada yang di tingkat RW atau kampung atau kelurahan. Tergantung kesiapan vaksin saat itu,” kata Heroe saat dihubungi secara daring, Minggu (22/8).

“Ada juga pelaksanaan yang dilakukan per RT per hari. Digilir di kampung-kampung.”

Sasaran prioritas vaksinasi di perkampungan adalah warga Kota Jogja bernomor induk kependudukan Jogja atau berdomilisi di wilayah setempat. Vaksinasi berbasis wilayah juga sudah berlangsung di Kelurahan Terban. Menurut Lurah Terban, Narotama, pelaksanaan vaksinasi berbasis wilayah sudah terjadwal dan berlangsung secara massal.

“Panitia tingkat RW berkoordinasi dengan Kepala Pukesmas Gondokusuman II. Hari ini kami juga mengadakan vaksinasi kerja sama dengan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) dengan jumlah  918 dosis di SMPN 1 Jogja,” kata Naro, Minggu,

Vaksinasi di Terban sudah berlangsung sejak Juli 2021. Pelaksanaan ini tergantung dengan keberadaan vaksin dari berbagai instansi. Apabila sedang tidak ada stok vaksin, warga bisa melakukan vaksinasi secara reguler di puskesmas setempat. Sampai saat ini, dari 4.000 warga yang wajib vaksin di Terban, sudah 3.800 orang yang mendapatkan suntikan.

Begitu pula di Kelurahan Suryatmajan. Vaksinasi berbasis wilayah sudah berlangsung sejak bulan lalu. Menurut Lurah Suryatmajan, Weda Satriya Negara, vaksinasi dengan sistem massal menjadi bagian dari program Jogja Merdeka Vaksin.

“Dijadwalkan, biasanya tergantung adanya ketersediaan vaksin dan jumlah pendaftar. Sasarannya satu kelurahan. Kalau yang reguler dilaksanakan juga di puskesmas,” kata Weda.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan sesuai kebijakan Gubernur DIY, Pemkab Sleman akan mendukung pelaksanaan vaksinasi hingga di tingkat terbawah, yakni RT dan RW.

Vaksinasi tersebut akan melibatkan puskesmas dan kalurahan sebagai pelaksana. "Direncanakan nanti puskesmas akan melayani vaksin di dalam dan di luar gedung yang bekerjasama dengan kalurahan untuk menyasar warga di RT dan RW," ujarnya.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, mengatakan sudah satu bulan pendataan vaksinasi berlangsung di tingkat RT, RW dan padukuhan. “Ada 25 puskesmas. Setiap hari, setiap puskesmas menyuntikkan 500 vaksin. Harapannya cakupan vaksin bisa 15.000 per hari,” kata dia.

Ia menjelaskan vaksinasi di Sleman menggunakan dua skema, yakni di wilayah perkotaan dan desa. "Nanti ada organisasi masyarakat kami fasilitasi. Begitu juga nanti yang desa-desa langsung melalui kecamatan, kalurahan, padukuhan,” ungkapnya.

Pemkab Bantul juga telah melibatkan dukuh hingga ketua RT dalam pendataan calon penerima vaksin. Vaksinasi akan dilakukan di padukuhan.

Ketua Harian Satgas Covid-19 Joko Purnomo mengatakan pendataan vaksinasi yang dilakukan Dinkes Bantul lewat kader kesehatan berkoordinasi dengan dukuh dan ketua RT.

Sekda Bantul Helmi Jamharis juga mengatakan pendataan vaksinasi telah melibatkan ketua RT setempat. “Melibatkan kader-kader yang mengurus posyandu lansia. Kemudian dalam pelaksanaannya, sebagian puskesmas sudah menjadikan padukuhan sebagai tempat vaksinasi,” ujar dia.

Kasi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Bantul, Abednego Dani Nugroho, pun menambahkan pemerintahan RW atau padukuhan telah dilibatkan dalam pendataan.

Percepatan vaksinasi ini seiring dengan menurunya positivity rate di DIY.

DIY mencatatkan penambahkan positif Covid-19 sebanyak 783 kasus dengan positivity rate harian di angka 20,57% pada Minggu kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun Harian Jogja, positivity rate selama sepekan terakhir menunjukkan tren menurun dibanding sepekan sebelumnya. Positivity rate pada Senin (16/8) di angka 23,19%, Selasa (17/8) 18,05%, kemudian Rabu (18/8) 18,78%, Kamis (19/8) 18,72%, Jumat (20/8) 18, 21%, Sabtu (21/8/2021) di angka 19.08% dan Minggu (22/8) kemarin di angka 20,57%. Rata-rata harian positivity rate selama sepekan terakhir di angka 19,42%.

Angka tersebut cenderung menurun dibandingkan sepekan sebelumnya yaitu 23,19%, dengan rincian pada Senin (9/8) mencatatkan angka terendah sebesar 11,51%, namun kemudian naik pada Selasa (10/8) 21,69%, Rabu (11/8) 21,74%, Kamis (12/8) 35,55%, Jumat (13/8) 21,79%, Sabtu (14/8) 31,03%, dan Minggu (15/8) di angka 19,05%. Positivity rate merupakan persentase jumlah kasus positif Covid-19 dengan membandingkan antara jumlah orang yang dites swab dengan orang yang terkonfirmasi positif. Penambahan kasus positif pada Minggu berasal dari Bantul 400 kasus, Sleman (195), Gunungkidul (98), Kota Jogja (45), dan Kulonprogo (45).

Adapun jumlah pasien sembuh tercatat bertambah 1.123, berasal dari Bantul 496 kasus, Sleman 308 kasus, Kulonprogo (139), Kota Jogja (125), dan Gunungkidul (55).

“Penambahan kasus meninggal sebanyak 39 kasus berasal dari Kota Jogja tujuh kasus, Bantul 12 kasus, Kulonprogo 4 kasus, Gunungkidul 4 kasus dan Sleman 12 kasus,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Biro Umum Hubungan Masyarakat dan Protokol Sekretariat Daerah DIY, Ditya Nanaryo Aji, Minggu.

Protokol kesehatan harus senantiasa dipatuhi selama pandemi Covid-19 belum berlalu. Semua warga masyarakat wajib memakai masker, apabila diperlukan memakai masker dobel, saat keluar rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, hingga menghindari kerumunan.