Tes Acak di Sleman Temukan Siswa Positif Covid-19

Ilustrasi - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
23 Oktober 2021 06:57 WIB Tim Harian Jogja Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Seorang siswa di Kabupaten Sleman positif Covid-19 berdasarkan hasil tes acak oleh pemerintah setempat. Temuan ini menambah daftar panjang siswa positif Covid-19 setelah menjalani sekolah tatap muka. Penerapan protokol kesehatan harus diperhatikan.

Dinas Kesehatan Sleman melakukan uji swab antigen secara acak kepada warga sekolah di tiga kapanewon, Kamis (22/10/2021) lalu. Berdasarkan tes tersebut ditemukan tiga siswa yang reaktif. Sesuai ketentuan, ketiga siswa itu pun melanjutkan tes swab polymerase chain reaction (PCR).
"Dari uji swab PCR, hanya satu siswa yang positif Covid-19 dan dua siswa lainnya negatif," kata Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama kepada Harian Jogja, Jumat (22/10/2021).

BACA JUGA: Kemenkes Sebut Gelombang Ketiga Covid-19 adalah Sebuah Keniscayaan

Ia menduga siswa yang positif Covid-19 tersebut terpapar dari salah satu dari anggota keluarganya yang positif Covid-19. Sesuai kebijakan Bupati Sleman, katanya, untuk sementara aktivitas PTM di sekolah tersebut dihentikan untuk sterilisasi sebelum PTM dilanjutkan.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana mengatakan hingga saat ini jawatannya belum menerima petunjuk teknis kewajiban melakukan tes swab PCR bagi siswa di sekolah. Kalaupun Kemendikbud mengatur ketentuan tersebut, Dinas siap melaksanakannya.

Disdik selalu berkoordinasi dengan Dinkes untuk memantau potensi dan perkembangan kasus Covid-19 di sekolah yang menggelar PTM. Pada Kamis misalnya, Dinkes melakukan uji swab antigen kepada warga sekolah yang menggelar PTM.

Uji swab tersebut, kata Ery, dilaksanakan secara sampling di Kapanewon Pakem, Depok, dan Kalasan. Sasarannya siswa, guru dan pegawai lainnya baik di SD  maupun SMP. Tes swab sampling tersebut, katanya, digelar di SMPN 2 dan SDN Kaliurang 1 (Pakem), SD Samirono dan SMPN 5 (Depok) kemudian SMPN 3 dan SD Muhammadiyah Bayen (Kalasan).

Sebelumnya warga sekolah terpapar Covid-19 terjadi di SD Sukoharjo, Sedayu, Bantul.

Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, Satgas Covid-19 Sedayu melakukan swab PCR kepada 30 orang kontak erat dengan 8 siswa dan 1 guru SD Sukoharjo, Jumat.

BACA JUGA: 31 Objek Wisata di Kulonprogo Segera Dibuka, Ini Daftarnya

Panewu Sedayu, Lukas Sumanasa, mengungkapkan hasil tes swab paling cepat baru keluar pada Sabtu (23/10/2021). "Untuk 8 siswa dan 1 guru SD Sukoharjo itu sejatinya adalah rantai penularan kelima. Kami berharap tidak ada lagi penularan Covid-19 yang bersumber dari takziah tersebut," jelas mantan Panewu Bambanglipuro itu.

Menurut Lukas, saat ini, kedelapan siswa dan satu guru tersebut kini tengah menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Untuk mencegah penularan, kegiatan belajar mengajar tatap muka di SD Sukoharjo ditutup sementara.  Kepala Seksi Kurikulum Bidang SMP, Disdikpora Bantul, Retno Yuli Astuti, memastikan belum ada rencana menerapkan kebijakan siswa harus menjalani swab PCR sebelum menjalani pembelajaran tatap muka.

Sebab, selain belum menerima aturan dari Kemendikbud terkait dengan kewajiban swab PCR bagi siswa, Disdikpora Bantul masih mengejar vaksinasi pelajar. "Kami masih fokus menyelesaikan vaksinasi untuk pelajar. Untuk kewajiban PCR kami belum mengetahui, karena belum ada aturan untuk itu," katanya.

Sekretaris Disdikpora Jogja, Dedi Budiono, mengatakan akan menggelar tes acak ke siswa bekerja sama dengan Dinkes.

“Tes acak [Covid-19] belum kami lakukan, kami akan koordinasi dengan Dinkes,” kata Dedi. “Karena sudah banyak sekolah yang menjalankan pembelajaran tatap muka, sangat ideal untuk tes acak.”

Sejak PTM berlangsung beberapa waktu lalu di Kota Jogja, belum ada laporan terkait munculnya klaster Covid-19 di sekolah-sekolah.

BACA JUGA: Level PPKM Turun, Ini Pesan Bupati Sleman yang Harus Dilakukan Semua Warga

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Ali Ridlo, mengaku belum tahu terkait dengan kebijakan tentang siswa harus tes PCR. “Kami tunggu petunjuk teknis resminya karena hal tersebut dibutuhkan pedoman pelaksanaan di daerah,” kata Ali.

Menurut dia, pelaksanaan PCR untuk siswa membutuhkan biaya besar. Oleh karenanya, petunjuk teknis dari kementerian sangat dibutuhkan sehingga ada kepastian terkait dengan pelaksanaan. “Harus dikaji apakah pembiayaannya menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah [BOS] atau sama seperti pelaksanaan vaksin yang seharusnya bayar, tapi biayanya ditanggung Pemerintah Pusat,” katanya.

PTM sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Semua pemangku kepentingan harus memperharikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan memakai masker.

Penerapan protokol kesehatan sangat penting untuk mencegah penularan Covid-19 secara luas.