Ekonomi DIY 2021 Diproyeksi Membaik, Digitalisasi Pariwisata Jadi Kunci

Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Budi Saptono, Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, Plt. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Miyono, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY, Singgih Raharjo dalam Webinar Pemulihan Ekonomi dan Digitalisasi di Sektor Pariwisata DIY, Selasa (26/10/2021) - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
27 Oktober 2021 06:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pertumbuhan ekonomi DIY diprediksi akan membaik pada 2021. Digitalisasi menjadi kunci penting, termasuk di sektor pariwisata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, di tengah pandemi Covid-19.

Plt. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Miyono mengatakan pada saat pandemi Covid-19 di 2020 ekonomi DIY mengalami kontraksi pada angka -2,69%. Hal tersebut disebabkan ekonomi DIY yang banyak bergantung sektor pariwisata, budaya, dan pendidikan, sementara saat pandemi ini, sektor tersebut terpukul.

Meski begitu, dikatakan Miyono recovery ekonomi di DIY terbilang cepat. Proyeksi untuk akhir 2021 perekonomian DIY 2021 berpotensi tumbuh kisaran 5,2-6,0%. “Kita optimis itu akan tercapai, setelah melihat kondisi. Setelah PPKM level 2 akan bergerak cepat,” ucap Miyono, dalam Webinar Pemulihan Ekonomi dan Digitalisasi di Sektor Pariwisata DIY, Selasa (26/10/2021).

Miyono mengungkapkan sektor ekonomi yang telah bisa beradaptasi dengan dunia digital, relatif lebih bisa tumbuh dengan cepat. “Aspek digitalisasi menjadi salah kunci menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Cepat bangkit, mencapai angka maksimal,” ucapnya.

Baca juga: Aplikasi Berkunjung ke Malioboro Tambah Lagi, Kini Untuk Batasi Pengunjung

Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY, Singgih Raharjo mengungkapkan selama pandemi Covid-19 berlangsung ada berbagai perubahan pola wisatawan. Mulai dari lebih memilih destinasi yang dekat, berwisata dengan kelompok kecil, dan penggunaan teknologi digital.

Hal itu pun telah ditangkap direspon oleh Dinpar DIY dan stakeholder terkait dengan kampanye Di Jogja Aja, Pranatan Anyar Plesiran Jogja yang mengutamakan kebersihan, kesehatan, keamanan, keindahan, serta penggunaan teknologi digital Visiting Jogja.

Aplikasi Visiting Jogja ini akan sangat membantu wisatawan dalam mencari informasi wisata dan melakukan pemesanan tiket destinasi wisata. “Aplikasi ini penting juga untuk mengelola data, dan untuk pemasaran pariwisata nantinya. Saat ini juga telah terintegrasi dengan PeduliLindungi,” ujar Singgih.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara mengatakan pariwisata saat ini sudah harus shifting ke quality tourism. Quality tourism bukan berarti menciptakan pariwisata yang mahal, namun bisa mengedukasi menjadikan wisatawan cerdas. Dalam artian wisatawan yang lebih memperhatikan dampak sosial ke masyarakat, ketika mereka berwisata.

Selain itu, menyadari generasi wisatawan yang telah berubah ke wisatawan milenial, perlu juga dilakukan adaptasi. Salah satunya dengan digitalisasi. “Wisata harus masuk kesana [digitalisasi]. Bisa mendapatkan target market mereka,” ujar GKR Bendara.

Dengan digitalisasi dan pemahaman data dari teknologi digital yang baik, kedepan sangat penting untuk membantu memahami bagaimana kecenderungan, tren yang terjadi. Saat ini juga harus mulai mendorong, bagaimana pariwisata di DIY, tidak hanya bersaing di nasional, namun juga di Asia Tenggara.

“Berakar kebudayaan, memang harus menjadi tulang punggung wisata di Jogja. Bagaimana mengcreate budaya menjadi universal. Kemudian, wisatawan datang kemudian pulang lagi membawa ilmu. Pedagang di Malioboro misal membiasakan tiga kata bahasa Jawa, monggo, nderek langkung, dan matur nuwun,” ujar GKR Bendara.

Baca juga: Update 26 Oktober 2021: Covid-19 DIY Bertambah 32 Kasus, Nihil Kematian

Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad mengungkapkan Bank BPD DIY selain sebagai bank umum, juga memiliki fungsi sebagai bank pembangunan. Artinya BPD DIY turut berperan juga dalam kondisi pandemi ini, mendorong pemulihan ekonomi. Salah satunya digitalisasi QRIS, yang memudahkan berbagai transaksi, dan mendukung UMKM. “Strategi kami digitalisasi, memilih jalur digital kalau tidak digital akan ditinggalkan,” ujarnya.

Santoso juga menyinggung pihaknya akan terus bersinergi untuk mendukung pariwisata, yang pada dasarnya menjadi pendukung yang besar bagi ekonomi DIY. “Kami mendukung semisal ada jalur wisata sepeda, dukungan pada digitalisasi UMKM,” ucap Santoso.

Langkah Anitisipatif

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Vinsensius Jemadu dalam sambutan virtualnya mengapresiasi digitalisasi yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY, dengan Visiting Jogja. Digitalisasi ini dinilai sebagai langkah antisipatif di tengah pandemi Covid-19.

“Tren wisatawan akan menggunakan digital. Akan mulai searching, booking, sharing, aktivitas transaksi akan melalui digital. Kami sambut positif, mendukung adanya Visiting Jogja,” ucap Vinsensius.

Dalam pemulihan ekonomi, Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Budi Saptono mengatakan salah satunya yaitu kebijakan restrukturisasi untuk para pelaku usaha di tengah pandemi. Selain itu OJK juga mendukung UMKM yang juga menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.

Dukungan tersebut mulai dari Pembiayaan, Pemasaran dengan membangun platform pemasaran UMKM Digital melalui UMKMMU, Digitalisasi Pemasaran Bank Wakaf Mikro (BWM) melalui aplikasi BWM – Bumdes. Hingga dukungan pembinaan atau pendampingan UMKM.