Faskes Bantul Disiapkan untuk Hadapi Omicron

Ilustrasi. - Freepik
20 Desember 2021 10:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Antisipasi kemungkinan melonjaknya kasus Covid-19 akibat masuknya varian omicron di Indonesia terus dilakukan. Penyiapan fasilitas kesehatan menjadi salah satu langkah utama yang dilakukan.

"Untuk omicron sementara ini kita masih tetap melakukan pencegahan melalui pembatasan-pembatasan di kegiatan masyarakat yang bersifat berkerumun. Juga melakukan tracing, testing, treatment," terang Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso pada Sabtu (18/12).

Ditambahkan pria yang akrab disapa Oki tersebut, lokasi ruang rawat bagi pasien Covid-19 dari selter Kalurahan hingga rumah sakit rujukan pun telah disiapkan. "Sampai saat ini rumah sakit jumlah tempat tidur yang sudah kita siapkan masih tetap ada sekitar 344 tempat tidur isolasi biasa dan sekitar 24 ICU masih ada," tandasnya.

"Kemungkinan kita masih akan tetap mempertahamkan jumlah bed di rumah sakit sampai dengan situasi memang benar-benar terkendali," imbuhnya.

Lebih lanjut Oki menjelaskan bila tata laksanan pasien Covid-19 varian omicron masih sama dengan varian Covid-19 lainnya. "Jadi tata laksana Omicron masih tetap sama dengan penanganan pada virus varian delta, alfa, maupun beta," terang Oki.

Yang menjadi catatan Oki dari varian omicron ini ialah mereka yang tetinfeksi kebanyakan tanpa gejala sampai bergejala ringan. Selain itu dari aspek penyebarannya, varian omicron diterangkan Oki lebih menular ketimbang varian delta. "Kemudian sementara yang di Afrika dan Eropa itu ditemukannya pada usia-usia dewasa muda," jelasnya.

"Hanya saja kita harus mewaspadai apabila yang terinfeksi ini adalah orang dewasa muda yang kemudian ada lontak dengan lansia yang mempunyai komorbid, maka itu yang akan menyebabkan terjadinya tingkat risio tinggi kematian pada lansia," ujarnya.

Sampai saat ini belum ada pasien Covid-19 yang dinyatakan terinfeksi varian omicron. Pasalnya belum ada pasien yang memenuhi kriteria dalam ujibGenome Sequencing. "Salah satu syaratnya adalah satu yang perlu diperiksa genome sequencing yakni kasus itu muncul secara mendadak atau muncul pada klaster-klaster besar atau diamati secara epidemiologi memiliki penyebaran yang cepat," terang Oki.

Kriteria pasien dilakukan pengecekan genome sequencing lainnya yakni CT Value pasien harus di bawah angka 25. "Sampai dengan saat ini CT Value ini yang tidak ada dan tidak di bantul. Semua di atas 30," katanya.