Advertisement

Wakil Ketua MPR Nilai Pola Pikir Pendidikan Saat Ini Masih di Revolusi Kedua

Ujang Hasanudin
Senin, 12 Desember 2022 - 00:37 WIB
Bhekti Suryani
Wakil Ketua MPR Nilai Pola Pikir Pendidikan Saat Ini Masih di Revolusi Kedua Wakil Ketua MPR RI, Arsul Sani (kedua dari kiri) saat menjadi pembicara dalam Talkshow Seni dan Budaya "Mencari Sekolah Yang Kita Banget" di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Sabtu (10/12/2022) - Harian Jogja/Ujang Hasanudin

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Wakil Ketua MPR RI, Arsul Sani mengatakan saat ini pola pikir pendidikan di Indonesia masih ada di revolusi industri kedua meski sudah revolusi industri 4.0. Menurutnya hal itu ditandai dengan para orang tua yang menuntut anaknya mendapat nilai harus tinggi, harus ahli di segala bidang dan semua itu masuk dalam kategori hard skill

“Tapi kita kurang mengembangkan soft skill, kepribadian, karakter dan lain sebagainya. Soft skill itu penting, misalnya sifat inklusif, bisa menghargai orang, pikiran terbuka, kemampuan bekerja sama yang semua itu juga penting dan bisa menentukan keberhasilan seorang anak,” kata Arsul Sani dalam acara temu tokoh dan talkshow seni dan budaya Mencari Sekolah Yang Kita Banget yang digelar dalam rangka Lustrum ke -13 atau Hari Ulang Tahun ke-65 SMAN 1 Teladan Jogja di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Sewon, Bantu, Sabtu (10/12/2022).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Menurutnya orang tua dan guru harus membebaskan anak didiknya sesuai minat yang diinginkan tanpa dipaksa untuk menguasai semua bidang disiplin ilmu. Kurikulum merdeka yang digaungkan pemerintah bisa mengakomodir kesempatan itu. Namun tantangannya adalah ketika ganti presiden dan ganti menteri ia khawatir kurikulum belajar berubah lagi.  

BACA JUGA: Presiden Jokowi: "Ngunduh Mantu" Kaesang-Erina Wujud "Nguri-uri" Budaya

“Kalau ganti menteri, kurikulum itu masih dipakai atau tidak? Dulu di akhir pemerintah SBY ada K-13 [kurikulum 13] yang kemudian diganti merdeka belajar, tanpa masyarakat tahu sebetulnya ini perubahan mengenai apa, titik tautnya apa. Maka orang tua harus bertanya  kalau besok kedatangan calon presiden, mau mengubah [kurikulum] lagi tidak? Kalau mau merubah seperti apa? Itu harus jadi kontrak politik, karena pendidikan tidak bisa main-main,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Prof Nizam berharap SMAN 1 Teladan selalu menjadi teladan dalam pembentukan karakter, teladan dalam membentuk anak-anak dengan potensi-potensi terbaiknya. “Berharap SMA Teladan dapat memberikan ruang yang luas bagi para siswa untuk mengembangkan dirinya, mengembangkan bakatnya dan membangun ke-Indonesia-an dengan kuat,” ucapnya.

Prof Nizam yang merupakan alumni SMAN 1 Teladan angkatan 80 ini melihat ada perbedaan yang cukup besar antara pelajar zamannya dengan pelajar saat ini. Ia melihat generasi muda saat ini sudah diwarnai dengan dunia digital dengan berbagai macam akses  media sosial dan sebagainya.

“Kita tidak boleh kemudian melarang mereka masuk ke dunia media sosial dan sebagainya. Tetapi memanfaatkan itu semua untuk tetap membangun kreativitas, daya nalar, budaya kritis, sehingga tidak larut ke dalam budaya yang bukan budaya kita,” katanya.

Sementara, Ketua Panitia Lustrum ke-13, Muhammad Romahurmuziy menjelaskan dalam rangkaian peringatan ini SMAN 1 Teladan memiliki beberapa jenis kegiatan, seperti Teladan Talk yang mengangkat beberapa tema, mulai dari seni dan budaya, ketahanan pangan yang dimeriahkan dengan pasar murah.

Selain seni budaya dan ketahanan pangan, tema lain yang diangkat seperti pendidikan, perpajakan, kesehatan dan teknologi. Melalui kegiatan tersebut, SMAN 1 Teladan berusaha mencari format di tengah persiapan sejumlah lembaga pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi dalam menyongsong kurikulum merdeka. 

“Kenapa menyongsong? Karena saat ini pemerintah baru memberikan imbauan sukarela kepada sekolah-sekolah yang siap menjalani kurikulum merdeka, belum wajib. Kurikulum ini adalah bagian dari upaya kita untuk tidak menghasilkan lulusan yang seragam. Sebagaimana fitrah manusia yang sejak lahir berbeda,” ungkapnya.

Lebih lanjut pria yang merupakan alumni SMAN Teladan angkatan 93 ini mengatakan dalam talshow tersebut pihaknya ingin menghadirkan perspektif persiapan melaksanakan kurikulum merdeka dalam konteks budaya. Pendidikan karakter yang selama ini menjadi bagian utama dalam pendidikan harus diperkuat, karena ini bisa jadi soft power Indonesia menghadapi persaingan di tingkat dunia.

“Secara intelektual kita sudah unggul, tetapi percaya dirinya, karakternya, tidak kuat. Maka itu yang kita gali,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BUMN Siap Perkuat Industrialisasi Pangan

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 19:42 WIB

Advertisement

alt

Seru! Ini Detail Paket Wisata Pre-Tour & Post Tour yang Ditawarkan untuk Delegasi ATF 2023

Wisata
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement