Pemprov Jateng Perluas Program Satu OPD Satu Desa untuk Percepat Penanganan Kemiskinan
Pemprov Jateng memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang kini menjangkau 641 desa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Gelaran workshop unique selling di Kelurahan Pandeyan, Kamis (7/12/2023)./Harian Jogja-Alfi Annissa Karin
JOGJA—Dinas Pariwisata (Dispar) DIY menggelar lokakarya Unique Selling Point Ekonomi Kreatif di Balai RW 11 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja, Kamis (7/12/2023). Belasan pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di lingkup Kelurahan Pandeyan turut mengikuti gelaran tersebut.
Lokakarya yang penyelenggaraannya didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais) 2023 tersebut dilaksanakan untuk mengajak pelaku ekraf menggali keunikan pada setiap potensi yang ada.
Kabid Ekonomi Kreatif Dispar DIY, Fitri Dyah Wahyuni menuturkan pariwisata dan ekraf merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Saat sektor pariwisata hidup, maka akan turut memberikan multiplier effect pada sektor ekraf. Misalnya, berdampak pada sektor perhotelan, restoran, hingga oleh-oleh. Secara keseluruhan, ekraf terbagi menjadi 17 subsektor.
Kelurahan Pandeyan, menurut Fitri, telah menjalankan beberapa subsektor ekraf, mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan. "Harapannya, adanya ekonomi kreatif bisa menjadi tulang punggung untuk perekonomian, menggerakkan perekonomian," katanya saat ditemui di Balai RW 11 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja, Kamis.
Fitri menambahkan, kebanyakan pelaku usaha kuliner telah memiliki merek dan terdaftar halal tetapi belum terdaftar dalam HAKI.
Padahal, merek dan label punya peranan penting dalam mewujudkan uniqe selling. Ini juga penting agar konsumen lebih mudah mengingat nama produk yang dijual. "Untuk pariwisata kan ada Sapta Pesona juga, salah satunya kenangan. Misalnya, konsumen mencicipi salah satu kuliner ternyata enak. Pasti yang akan dicari adalah mereknya," katanya.
Anggota Komisi B DPRD DIY, RB Dwi Wahyu menuturkan sejauh ini Kota Jogja punya banyak potensi.
Hanya saja tak pernah terkonsolidasi dan terkonsep dalam perspektif pariwisata. Untuk itu, keunikan dari masing-masing potensi itu perlu digali.
BACA JUGA: Dinas Pariwisata Sleman Mewadahi Produk Ekraf lewat Creative Week
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif juga masih menemui sejumlah kendala. Misalnya, pada proses menjangkau pasar yang lebih luas. Ini lantaran keterbatasan keterampilan pemasaran digital yang dimiliki oleh para pelaku ekonomi kreatif khususnya pelaku UMKM.
Menurutnya, soal produksi dan menciptakan produk yang berkualitas bukan menjadi masalah. Namun, sulit ketika harus menjangkau pasar yang luas. Untuk itu, menurut Dwi perlu adanya kolaborasi. Utamanya dengan para generasi muda untuk melakukan pemasaran secara digital.
"Anak muda dan kaum UMKM yang mayoritas lansia tidak pernah klop. Saya ingin ada yang produksi, ada yang memasarkan lewat digital. Sampai kepada mereka membuatkan film pendeknya, menarasikan produknya di dalam packaging, mengunggah ke digital, live shopping," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemprov Jateng memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang kini menjangkau 641 desa untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Bahlil Lahadalia mengatakan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi dibentuk untuk mempercepat eksekusi target hilirisasi dan transisi energi.
PT Virgo Karya Shipping memberikan pendampingan hukum kepada nakhoda Kapal Virgo Transport 8 yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Sarmuji resmi menjadi Menperin menggantikan Agus Gumiwang. Kadin meminta empat persoalan industri segera menjadi perhatian.
Koperasi Semesta belum bisa memasok susu untuk MBG karena produksi terserap industri dan UMKM. Populasi sapi akan ditambah 200 ekor.
BPS mencatat inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan. Program MBG turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras.