Kenapa Sudah Online Tapi Sepi Pembeli? Realitas Baru Digitalisasi UMKM
Menurut Survei Profil Internet Indonesia 2025 dari APJII, penetrasi internet di DI Yogyakarta menembus 91,18 persen, tertinggi kedua nasional
Gelaran workshop unique selling di Kelurahan Pandeyan, Kamis (7/12/2023)./Harian Jogja-Alfi Annissa Karin
JOGJA—Dinas Pariwisata (Dispar) DIY menggelar lokakarya Unique Selling Point Ekonomi Kreatif di Balai RW 11 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja, Kamis (7/12/2023). Belasan pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di lingkup Kelurahan Pandeyan turut mengikuti gelaran tersebut.
Lokakarya yang penyelenggaraannya didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais) 2023 tersebut dilaksanakan untuk mengajak pelaku ekraf menggali keunikan pada setiap potensi yang ada.
Kabid Ekonomi Kreatif Dispar DIY, Fitri Dyah Wahyuni menuturkan pariwisata dan ekraf merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Saat sektor pariwisata hidup, maka akan turut memberikan multiplier effect pada sektor ekraf. Misalnya, berdampak pada sektor perhotelan, restoran, hingga oleh-oleh. Secara keseluruhan, ekraf terbagi menjadi 17 subsektor.
Kelurahan Pandeyan, menurut Fitri, telah menjalankan beberapa subsektor ekraf, mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan. "Harapannya, adanya ekonomi kreatif bisa menjadi tulang punggung untuk perekonomian, menggerakkan perekonomian," katanya saat ditemui di Balai RW 11 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja, Kamis.
Fitri menambahkan, kebanyakan pelaku usaha kuliner telah memiliki merek dan terdaftar halal tetapi belum terdaftar dalam HAKI.
Padahal, merek dan label punya peranan penting dalam mewujudkan uniqe selling. Ini juga penting agar konsumen lebih mudah mengingat nama produk yang dijual. "Untuk pariwisata kan ada Sapta Pesona juga, salah satunya kenangan. Misalnya, konsumen mencicipi salah satu kuliner ternyata enak. Pasti yang akan dicari adalah mereknya," katanya.
Anggota Komisi B DPRD DIY, RB Dwi Wahyu menuturkan sejauh ini Kota Jogja punya banyak potensi.
Hanya saja tak pernah terkonsolidasi dan terkonsep dalam perspektif pariwisata. Untuk itu, keunikan dari masing-masing potensi itu perlu digali.
BACA JUGA: Dinas Pariwisata Sleman Mewadahi Produk Ekraf lewat Creative Week
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif juga masih menemui sejumlah kendala. Misalnya, pada proses menjangkau pasar yang lebih luas. Ini lantaran keterbatasan keterampilan pemasaran digital yang dimiliki oleh para pelaku ekonomi kreatif khususnya pelaku UMKM.
Menurutnya, soal produksi dan menciptakan produk yang berkualitas bukan menjadi masalah. Namun, sulit ketika harus menjangkau pasar yang luas. Untuk itu, menurut Dwi perlu adanya kolaborasi. Utamanya dengan para generasi muda untuk melakukan pemasaran secara digital.
"Anak muda dan kaum UMKM yang mayoritas lansia tidak pernah klop. Saya ingin ada yang produksi, ada yang memasarkan lewat digital. Sampai kepada mereka membuatkan film pendeknya, menarasikan produknya di dalam packaging, mengunggah ke digital, live shopping," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Menurut Survei Profil Internet Indonesia 2025 dari APJII, penetrasi internet di DI Yogyakarta menembus 91,18 persen, tertinggi kedua nasional
Rupiah menguat ke Rp17.997 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, didorong perbaikan PMI manufaktur Indonesia dan sentimen global.
DPRD DIY menilai stigma sekolah bermutu dan faktor biaya pendidikan menjadi penyebab sekolah kekurangan murid, bukan semata sistem zonasi.
Australia mengonfirmasi kematian massal satwa liar pertama akibat flu burung H5. Hingga kini tercatat 74 kasus, tetapi belum menyerang sektor unggas.
BMKG mendeteksi Bibit Siklon Tropis 94W yang berpotensi memicu hujan lebat dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia pada 3-6 Agustus 2026.
Ratih Handayani kembali ke kampung halamannya untuk mengemban amanah sebagai General Manager Garrya Bianti Yogyakarta.