Tren Menikah di KUA Mulai Dilirik Warga Kulonprogo, Ini Alasannya
Menikah di KUA mulai dilirik warga Kulonprogo. Selain gratis, faktor kepraktisan, waktu, dan fleksibilitas resepsi turut menjadi alasan.
Lapak dagangan bakwan kawi milik Sri (kiri) dan crepes milik Bayu (kanan) di Alun-alun Wates tampak sepi pada Senin (23/2/2026). - Harian Jogja/Khairul Ma'arif
Harianjogja.com, KULONPROGO—Omzet pedagang Alun-alun Wates selama Ramadan justru mengalami penurunan dibanding hari biasa, dipicu sepinya pengunjung, cuaca hujan, hingga maraknya pedagang musiman. Kondisi ini membuat pendapatan harian pedagang merosot jauh dari periode sebelum bulan puasa.
Suasana Alun-alun Wates yang biasanya ramai aktivitas warga pada sore hingga malam hari berubah lebih lengang selama Ramadan tahun ini. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap omzet pedagang Alun-alun Wates yang mengaku mengalami penurunan penjualan signifikan.
Salah satu pedagang makanan ringan crepes, Bayu Aji, mengatakan sejak awal Ramadan 2026 pendapatannya tidak pernah menyamai omzet sebelum bulan puasa. Ia menyebut selama Ramadan omzet kotor tertinggi yang diperoleh hanya sekitar Rp300.000 per hari, padahal pada hari biasa angka tersebut justru menjadi pendapatan terendahnya.
"Selama Ramadan omzet saya paling banyak sehari Rp300 ribu itu (pendapatan) kotor. Padahal di hari biasa sebelum Ramadan omzet sehari Rp300 ribu itu paling sedikit didapatkan," katanya saat ditemui, Senin (23/2/2026).
Pada kondisi normal di luar Ramadan, Bayu mengaku omzet kotor penjualan crepes bisa mencapai Rp500.000 per hari di Alun-alun Wates. Ia menilai beberapa faktor menjadi penyebab utama turunnya omzet pedagang Alun-alun Wates, di antaranya meningkatnya jumlah pedagang musiman yang menjual takjil sehingga persaingan lebih ketat, serta cuaca hujan yang kerap turun pada sore hari.
"Kalau hujan sudah pasti sangat sedikit yang beli. Faktor lainnya selama Ramadan saya buka sore hari sedangkan di hari biasa buka dari siang jadi bikin pendapatan berkurang," lanjutnya.
Selain faktor cuaca dan jam operasional yang lebih pendek, jumlah pengunjung Alun-alun Wates yang berolahraga atau sekadar mencari hiburan juga berkurang selama Ramadan. Padahal, aktivitas olahraga seperti joging biasanya menjadi salah satu sumber pembeli bagi pedagang makanan ringan.
Menurut Bayu, posisi Alun-alun Wates sebagai destinasi kuliner juga cenderung bergeser selama Ramadan karena masyarakat lebih memilih lokasi lain yang banyak menyediakan takjil musiman.
"Soalnya kan kalau Ramadan banyak penjual takjil musiman jadi Alun-alun Wates bukan rekomendasi utama, berbeda ketika hari biasa Alun-alun Wates menjadi salah satu destinasi orang untuk berkuliner di Kulonprogo," ungkapnya.
Ia mengungkapkan omzet terendah selama Ramadan bahkan pernah hanya mencapai Rp125.000 per hari. Kondisi tersebut, menurutnya, memang hampir selalu terjadi setiap Ramadan.
"Biasanya buka dari siang, sedangkan Ramadan buka dari sore. Ditambah memang hujan dan yang datang ke Alun-alun Wates berkurang saat Ramadan jadi bikin anjlok penjualan," jelasnya.
Situasi serupa juga dirasakan pedagang makanan lainnya di kawasan tersebut. Pedagang bakwan kawi, Sri, mengaku pendapatan bersihnya saat Ramadan turun drastis dibanding hari biasa.
"Kalau hari biasa omzet bersihnya bisa sampai Rp400 ribu sehari tetapi ketika Ramadan seperti sekarang untuk sehari Rp150 ribu saja rasanya susah sekali," tuturnya.
Menurut Sri, peningkatan jumlah pembeli biasanya baru terasa mendekati Idulfitri hingga masa libur Lebaran ketika banyak perantau pulang kampung.
"Dagang di Alun-alun Wates baru akan ramai ketika sepekan jelang Idulfitri hingga libur lebaran nanti banyak yang pulang kampung baru pembelinya ramai," katanya.
Ia juga menilai minimnya aktivitas masyarakat, khususnya olahraga di area alun-alun selama Ramadan, turut memengaruhi omzet pedagang Alun-alun Wates. Baik Bayu maupun Sri diketahui berjualan di area depan Rumah Dinas Wakil Bupati Kulonprogo.
Penurunan omzet tidak hanya dialami pedagang makanan, tetapi juga pedagang mainan. Yuni, salah satu penjual mainan di Alun-alun Wates, mengaku jumlah pembeli turun drastis karena jarang ada orang tua yang mengajak anaknya bermain di lokasi tersebut selama Ramadan.
"Bahkan kemarin saya berjualan tidak ada yang beli satu pun," keluhnya.
Kondisi omzet pedagang Alun-alun Wates yang menurun saat Ramadan ini menunjukkan dinamika ekonomi musiman di ruang publik, terutama ketika pola aktivitas masyarakat berubah dan muncul pusat kuliner alternatif selama bulan puasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Menikah di KUA mulai dilirik warga Kulonprogo. Selain gratis, faktor kepraktisan, waktu, dan fleksibilitas resepsi turut menjadi alasan.
Kemenpar memperkuat keselamatan wisatawan di kawasan gunung api melalui pemetaan risiko, SOP, infrastruktur mitigasi, dan kompetensi pemandu.
Adhi Karya memastikan girder Tol Jogja-Solo di Kronggahan aman dengan bracing sementara. Pemasangan diafragma kini mulai dilakukan.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.