Hercules, Legenda Sang Penjelajah Dipereteli & Dirakit Kembali dalam 3 Bulan

Museum Dirgantara - Harian Jogja/Irwan A. Syambudi
26 April 2018 06:25 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN—Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Banguntapan, Bantul, kedatangan empat pesawat yang punya nilai sejarah tinggi. Burung besi yang diproduksi pada dekade 50-an hingga 60-an itu menjadi saksi awal kemerdekaan Indonesia.

Halaman Museum Dirgantara cukup sesak pada Rabu (25/4) pagi. Empat pesawat lama yang menjadi koleksi anyar memenuhi halaman, menjadi daya tarik ratusan pengunjung yang turun dari puluhan bus. Museum yang memiliki luas kurang lebih 4,2 hektare ini memiliki beberapa bangunan. Satu bangunan inti paling besar dipakai menyimpan koleksi alutsista TNI AU, termasuk pesawat berukuran kecil.

Pesawat besar diparkir di halaman museum, termasuk empat koleksi baru museum. Pertama yakni Ilyusin 11-14 AVIA dengan nomor registrasi T-414. Pesawat buatan Uni Soviet atau sekarang dikenal Rusia ini memiliki panjang 22,3 meter, dengan lebar sayap 31,7 meter. Pesawat tersebut diparkir di samping utara gedung Museum Engine.

Koleksi lainnya juga diparkir tidak jauh dari pesawat yang pernah digunakan dalam operasi Trikora, Dwikora, penumpasan DI/TII, serta operasi penumpasan pemberontakan lainnya itu. Sekitar 50 meter dari Ilyusin 11-14 AVIA, tepat di depan Museum Engine, Hawker Hunter, berdiri gagah. Pesawat buatan Inggris yang memiliki panjang 14 meter dengan rentang sayap 10 meter ini masih diparkir di tengah jalan setelah pada Selasa (24/4) kemarin diresmikan sebagai koleksi Museum Dirgantara oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Dua penghuni baru lainnya, yakni pesawat Fokker 27 TS dan Hercules C-130 diletakkan berdekatan. Foker 27 TS memiliki panjang 25,06 meter dengan lebar sayap 29 meter. Pesawat ini mulai menjadi pesawat TNI AU sejak 7 September 1976. Selain untuk operasi militer, pesawat ini juga digunakan untuk berbagai operasi kemanusiaan. Pada 1980 pesawat ini digunakan untuk operasi jembatan udara setelah terjadi krisis penerbangan akibat mogoknya pilot Garuda Indonesia. Setelah itu pada 1981 pesawat ini juga digunakan untuk operasi penyelamatan korban kebakaran Kapal Tampomas II di perairan Masalembo.

Hercules C-130 merupakan pesawat terbesar yang menjadi koleksi tergres museum. Pesawat buatan Amerika ini memiliki panjang 29,8 meter dengan rentang sayap 40 meter. Hercules C-130 pertama kali dimiliki oleh Indonesia pada 1960 setelah keberhasilan Presiden Soekarno bernegosiasi dengan Presiden Amerika John F. Kennedy. Negosiasi ini berkaitan erat dengan pembebasan Allan Pope, seorang agen CIA yang ditawan setelah membantu gerakan Permesta.

Setelah terjadi kesepakatan dengan Amerika, pesawat tersebut tidak langsung didatangkan ke Indonesia dengan mudah. Sejumlah penerbang dari Indonesia harus belajar selama enam bulan untuk dapat membawa pesawat tersebut ke Tanah air. Pesawat ini baru dapat diboyong ke Nusantara dengan melintasi Laut Pasifik, Tiongkok, dan Laut Jawa dengan jarak 13.000 mil. Jarak tersebut menjadi penerbangan terjauh saat itu, sehingga pesawat ini dijuluki sebagai Legenda Sang Penjelajah.

Dipereteli

Menurut Kepala Seksi Koleksi Museum Dirgantara Mandala, Letkol Sus Heri Susanto, empat pesawat telah melengkapi koleksi puluhan pesawat yang sebelumnya menetap di museum. “Sekarang total ada 56 koleksi pesawat,” kata dia kepada Harian Jogja, Rabu kemarin.

Ilyusin 11-14 AVIA, Hawker Hunter, Fokker 27 TS, dan Hercules C-130 dikandangkan di Museum Dirgantara karena masa terbangnya telah paripurna.

Menurut Sus Heri, setiap pesawat memiliki batas jam terbang maksimal yang berbeda-beda. Jika telah melebihi jam, maka pesawat tersebut sudah tidak boleh terbang lagi karena alasan keamanan.

“Tetapi sebagian pesawat ada yang masih diterbangkan, seperti kemarin pesawat A4 dan Hok MK53, membawanya ke sini diterbangkan dari Madiun. Empat koleksi baru, seperti Fokker 27 TS itu tidak boleh terbang dan dibawa ke sini dengan kontainer,” kata dia.

Fokker didatangkan dari Bandung dengan cara dipereteli satu per satu bagiannya. Sesampainya di museum, pesawat tersebut baru dirangkai kembali. Perakitann tiap pesawat memerlukan waktu berbeda. Pesawat paling gede, Hercules disusun hampir tiga bulan, Fokker satu bulan, Ilyusin satu bulan, dan Hawker Hunter selama dua pekan.

Setelah jadi pajangan dan pengingat perjalanan Republik Indonesia, pesawat dirawat rutin. “Kami biasanya mencuci seluruh pesawat dua pekan sekali, dan mengecatnya setiap satu tahun sekali,” katanya.

Sebelumnya, melalui keterangan pers, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan empat pesawat diabadikan di Museum Dirgantara untuk memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh senior militer yang telah mengorbankan dirinya untuk bergabung dalam TNI AU demi menegakkan kedaulatan dan keutuhan NKRI. “Nilai-nilai itu yang kami angkat dan persembahkan dengan cara mengabadikan alutsista yang pernah digunakan untuk mempertahankan NKRI,” kata dia.

Panglima TNI juga meresmikan Museum Engine R.Ahmad Imanullah yang berada di dalam kawasan Museum Dirgantara Mandala. Museum Engine menyimpan 36 mesin pesawat berbagai jenis seperti mesin pesawat latih, helikopter, pesawat angkut, dan pesawat tempur.

Panglima mengharapkan penambahan koleksi pesawat dan Museum Engine ini juga bisa menjadi wahana visualisasi yang dapat digunakan untuk edukasi, rekreasi dan inspirasi generasi penerus.

“Generasi penerus tidak akan pernah tahu sejarah jika generasi yang lebih tua tak menghadirkan benda-benda sejarah. Generasi penerus tidak akan mau menghargai sejarah jika tidak mengetahui sejarah bangsanya,” kata Marsekal Hadi.

Adplus Tokopedia