Pengembangan Sektor Kerajinan di Sleman Terkendala SDM

Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman
12 Agustus 2018 22:15 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Industri mebel dan kerajinan di Sleman kekurangan sumber daya manusia (SDM). Saat ini para pekerja usia produktif dinilai lebih tertarik bekerja di sektor non-kerajinan.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Sleman Raya, Rian Hermawan, mengatakan banyak pekerja yang menganggap pekerjaan sebagai perajin mebel dan kerajinan adalah kegiatan yang tidak menarik dan kotor. Kebanyakan pekerja memilih mengadu nasib dengan menjadi pelayan toko modern atau penjaga kios pulsa. "Mereka menganggap kerja di toko lebih enak sehingga kerja di kerajinan kurang diminati," kata Rian, Minggu (12/8/2018).

Sementara, pekerja yang masih bertahan di sektor kerajinan juga ada yang belum memiliki kapasitas mumpuni dalam memproduksi kerajinan. Berbagai upaya sudah dilakukan, salah satunya menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pekerja.

Rian mengatakan sebenarnya dari segi pendapatan, upah pekerja di sektor kerajinan sudah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Jam kerja juga sudah sesuai dengan waktu yang disepakati.

Beberapa pemilik usaha juga menerapkan sistem borongan untuk menggaji pekerjanya. Dengan sistem ini, pada satu sisi pekerja memang hanya akan mendapat upah saat mengerjakan pesanan. Namun pada sisi lain, saat ada pesanan yang lebih banyak, nilai upah yang mereka terima bisa meningkat drastis sampai dua kali lipat. Sayangnya sistem kerja seperti ini masih kurang mendapat respons positif dari pekerja kerajinan di Sleman. Sejauh ini pemasaran produk mebel dan kerajinan Sleman masih didominasi untuk pasar lokal. "Porsi lokal masih banyak. Lokal sampai 60 persen, sisanya ekspor," kata Rian.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Tri Endah Yitnani, mengatakan untuk mengatasi masalah kurangnya SDM di sektor kerajinan, jajarannya membantu dengan melakukan pengukuhan sentra kerajinan untuk memudahkan mapping masalah dan fasilitasinya. Ada pula kegiatan lomba kerajinan untuk memancing inovasi dan kreativitas serta menumbuhkan daya saing. "Kami juga melakukan pelatihan untuk pengrajin pemula untuk menumbuhkan minat agar ada SDM yang baru," katanya.

Perajin pemula ini seperti perajin yang dulu menginduk pada industri besar dan kemudian membuka usaha sendiri dan membutuhkan akses dana dan asahan peningkatan keterampilan.