Warga Tridadi Lestarikan Budaya Mataram & Dapat Banyak Keuntungan

Pengunjung menikmati liburan di Puri Mataram, Dusun Drono, Desa Tridadi, Sleman, Minggu (7/10/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
12 Oktober 2018 10:25 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tanah kas desa seluas 4,5 hektare di Tridadi, Sleman, disulap menjadi tempat wisata keluarga bernuansa Mataram. Hasilnya dinikmati warga sekitar. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Fahmi Ahmad Burhan.

Di taman yang luasnya sekitar 49 meter persegi, Iis Wahyuni bermain bersama sanak famili. Puluhan kelinci berlarian.  Telinga kelinci berwarna putih bercorak hitam itu cukup panjang. Ditariknya telinga itu oleh Iis. Kelinci malah balik menyerang dan menggigit jari Iis.

Petugas dengan sigap membawa alat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Jari Iis dilumuri obat merah agar lukanya reda, meski tak seberapa.

Minggu (7/10/2018) sore itu, Iis dan keluarga bermain di Taman Kelinci, salah satu wahana yang ada di Puri Mataram. Berlokasi di Dusun Drono, Desa Tridadi, Sleman, Puri Mataram gampang sekali diakses. Lokasinya hanya sekitar satu kilometer dari kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

“Lumayan untuk bermain di akhir pekan, lebih dekat juga dengan rumah,” kata dia kepada Harian Jogja.

Rumah Iis berada di Dusun Tambak Bayan, Desa Caturtunggal, Depok.

Baginya, Puri Mataram bisa menjadi alternatif berlibur di akhir pekan. “Baru pertama kali ke sini, bagus sih, tetapi wahana wisatanya perlu dikembangkan lagi,” ujarnya.

Di tempat vakansi itu, tidak hanya Taman Kelinci yang ia sambangi. Ada embung buatan yang biasa dijadikan tempat untuk mengayuh becak air. Sementara, sekitar delapan saung siap menyediakan kudapan dan makanan tradisional seperti jenang, getuk, hingga sego megono.

Di akhir pekan, Puri Mataram akan ramai dibanding hari biasanya.

“Kalau Minggu ada Pasar Ndhelik, kalau di hari biasa tidak ada,” kata Harmini, salah satu pedagang di Pasar Ndhelik Puri Mataram.

Pada hari ramai, biasanya jajanan yang sudah ia siapkan dari Subuh akan habis saat sore hari. “Kalau pendapatan saya berjualan bisa sampai Rp1,5 juta per hari,” ucap Harmini.

Pedagang yang berjualan berkelompok. Dalam satu pekan bisanya ada delapan kelompok. Sementara, satu kelompoknya ada sekitar tiga perempuan paruh baya.

Untuk Warga

Puri Mataram merupakan tempat wisata yang berdiri di lahan tanah kas desa seluas 4,5 hektare. Tempat wisata ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tridadi Makmur.

Direktur BUMDes Tridadi Makmur Raden Agus Choliq mengatakan Puri Mataram dikembangkan sebagai destinasi wisata berbudaya Mataram.

“Filosofinya sebagai tempat indah, ada Taman Bunga di sana, ada permainan, ada Taman Kelinci. Kami ingin Puri Mataram jadi ikon wisata di Jogja,” kata Choliq, Selasa (9/10/2018).

Puri Mataram mulai dibuka pada libur Lebaran tahun ini. Choliq mengatakan destinasi wisata itu dikelola warga dan hasilnya juga dinikmati warga Tridadi.

“Sekarang yang bekerja di Puri Mataram dari Desa Tridadi ada sekitar 60 orang, banyak ibu-ibu. Saat ini omzet sebulannya bisa sampai Rp100 juta, dan kembali ke desa juga,” ujarnya.

Selanjutnya, akan ada pengembangan-pengembangan di tempat wisata ini, mulai dari homestay sampai kolam untuk memancing ikan.

“Bangunan-bangunannya kami kembangkan sesuai budaya di rumah-rumah orang jawa. Ada joglo, limasan, sinom,” kata Agus.