Rupiah Terus Melemah, TPID Sleman Pantau Harga Terigu

Aktivitas pekerja mempersiapkan distribusi terigu di salah satu distributor yang berada di Jalan Kabupaten, Dusun Kronggahan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Selasa (23/10 - 2018).Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
24 Oktober 2018 14:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman menggelar pantauan harga untuk komoditas beras dan terigu di dua distributor. Meski tidak signifikan, saat ini ada kenaikan harga terigu di tingkat distributor. Hal ini terjadi karena faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pantauan harga digelar oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sleman. Asisten Sekda Sleman Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Suyono, mengatakan pantauan dilakukan untuk memastikan harga tetap stabil, terutama di tingkat distributor. Ada dua distributor yang dipantau dan bergerak di usaha distribusi terigu dan beras.

Berdasar hasil pantauan, secara umum permintaan dan penawaran untuk komoditas terigu masih seimbang. "Belum ada dampak yang signifikan. Saat ini barang yang masuk dan keluar seimbang. Hanya saja permintaan pasar terhadap salah satu komoditas yaitu terigu agak menurun,” kata Suyono di sela-sela pemantauan, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, dengan tren rupiah yang melemah jajarannya terus memastikan agar harga beberapa komoditas di Sleman stabil dan tidak ada dampak yang signifikan. Pada Selasa, posisi nilai tukar rupiah untuk satu dolar Amerika Serikat masih di atas Rp15.000.

Kepala Dinas Perdagangan Sleman, Tri Endah Yitnani, mengatakan pantauan yang dilakukan bersifat insidental. "Dalam setahun pantauan harga kebutuhan pokok dilakukan lima kali, namun terkadang ada kondisi tertentu yang membuat kami harus memantau harga," katanya, Selasa.

Ia mengatakan meski tidak signifikan, ada kenaikan harga terigu di pasaran. Kenaiakan terigu bisa sampai 2%. "Tergantung mereknya, pada pemantauan di tingkat distributor, harganya ada yang naik dari Rp7.600 menjadi Rp7.900," ucap Endah.

Ia mengatakan, hasil dari pantauan tersebut bisa menjadi tolok ukur dalam pengambilan kebijakan. Selain itu ia juga mengimbau agar para pelaku usaha di komoditas tersebut untuk menggunakan produk lokal dan tidak tergantung pada produk impor.

Direktur PT Tri Lestari, Arif Budiono, mengatakan untuk komoditas terigu terjadi pelambatan permintaan pasar. "Jadi harganya naik, dan kenaikan ini merupakan kebijakan produsennya sendiri, kenaikannya terjadi secara bertahap," kata Arif. Menurutnya, kapasitas yang didistribusikan oleh distributor tersebut mencapai 11 juta ton yang diambil dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa.