OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Ilustrasi jalan tol./JIBI-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, SLEMAN--Selokan Mataram yang bakal dilintasi tol melayang dianggap punya nilai tersendiri.
Pembangunan jalan tol yang melintas di DIY dipastikan melewati selokan Mataram. Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Krido Suprayitno menuturkan, selokan Mataram punya nilai sejarah.
"Memang betul (selokan Mataram) memiliki nilai sejarah. Jadi harus dilestarikan dan kita manfaatkan untuk kepentingan budaya dan pembangunan yang memiliki nilai kearifan lokal," kata Krido saat ditemui detikcom-jaringan Harianjogja.com seusai sosialisasi pembebasan tanah untuk jalan tol Yogya-Solo di Kantor Desa Tirtoadi Jalan Raya Dusun Jontungan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.
Selokan Mataram memiliki panjang 31,2 km dan dibangun pada Masa Pendudukan Jepang. Saat ini selokan itu memiliki fungsi vital untuk pertanian dan perikanan. Menurut Krido, hal itu lah yang menjadi daya tarik utama.
"Dan justru jalan tol yang melewati selokan Mataram ini yang memiliki nilai historis dan menjadi sebuah daya tarik ada jalan tol yang melintas di atas selokan," bebernya.
Krido mengatakan ada nuansa khusus saat sebuah tol melewati Selokan Mataram. Oleh karenanya, dalam mendesain jalan tol pihaknya tidak semata-mata memikirkan konstruksi saja.
"Ini (jalan tol) yang melewati selokan akan memiliki nuansa strategis ekologis dan nilai strategis budaya. Karena tidak semata-mata tidak hanya memikirkan konstruksi," ungkapnya.
Dia mengaku bahwa saat ini pihaknya belum melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWS-SO) sebagai instansi pengelola selokan. Pembicaraan akan dilakukan saat konsultasi publik pada Maret 2020.
"Nanti pembahasan bersama BBWS-SO dilakukan pada saat konsultasi publik. Bersama dengan para instansi yang lain, seperti Dishub, PDAM dan pihak lain terkait," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Detik.com
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Imigrasi memperketat pengawasan WNA di Bantul lewat APOA. Hotel, homestay, dan vila diwajibkan melaporkan tamu asing secara berkala.
Hanung Bramantyo mengadaptasi Children of Heaven berlatar SD Muhammadiyah dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter anak.
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta