Buntut Serangan Ransomware, Jokowi Minta BPKP Audit Tata Kelola Pusat Data Nasional
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Bidan Mei Muhartati bersama bayi laki-laki yang lahir di kliniknya namun ditinggalkan orang tuanya, Rabu (8/7/2020).-Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, SLEMAN- Kasus penelantaran bayi oleh orang tua tidak bertanggung jawab kembali terjadi di Sleman. Kali ini, seorang bayi berjenis kelamin laki-laki yang baru saja dilahirkan justru ditinggalkan di klinik bidan.
Kasus penelantaran bayi tersebut terjadi pada Senin (6/7/2020) di rumah bersalin milik seorang bidan bernama Mei Muhartati yang beralamat di Jalan Kledokan, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman. Bayi seberat 3,3 kilogram yang baru saja dilahirkan oleh ibunya itu ditinggalkan di kliniknya pada Senin malam.
Mei menuturkan bahwa ibu bayi itu datang pada Senin malam dan mengeluh kesakitan karena akan melahirkan. Perempuan hamil itu mengaku diantar ayahnya. Mei langsung membantu proses persalinan dan bayi lahir dengan selamat. Ibu bayi bahkan sempat mendapat perawatan.
Namun, setelah ia menangani pasien melahirkan yang lain, pada Selasa (7/7/2020) pagi pukul 03.30 WIB, ia mendapati bayi laki-laki itu menangis tanpa didampingi ibunya. Bahkan, orang yang diakui sebagai ayah perempuan itu juga tidak ada.
"Agak curiga karena sebelum melahirkan saat saya tanyai identitas mereka berdua tidak membawa. Mereka juga nggak biasa periksa di sini," kata Mei pada Rabu (8/7/2020).
Saat itu, ibu bayi mengaku bernama Meisya Yunitasari. Laki-laki yang mendampinginya ia perkenalkan sebagai ayahnya dan bernama Warno. Keduanya mengaku berasal dari Tepus, Gunungkidul.
Kasus itu pun dilaporkan ke Polsek Depok Barat. Mei mengaku akan menyerahkan bayi itu ke Dinas Sosial Kabupaten Sleman. "Siapapun yang ingin mengadopsi langsung berurusan dengan Dinsos Sleman saja," kata dia.
Selain menelantarkan, orang tua bayi juga diketahui menggunakan identitas orang lain saat proses persalinan. Hal ini terungkap setelah pihak kepolisian merunut identitas pelaku kedua pelaku penelantaran bayi ini. Sebab, pemilik nama asli Meisya Yunitasari mengonfirmasi bahwa dia bukan pelaku penelantaran. Sementara, Warno merupakan nama ayahnya.
"Data saya itu dipakai orang yang tidak bertanggung jawab saat proses persalinan. Saya diberitahu teman karena ada yang menyimpulkan kalau itu saya," kata Meisya, 22, saat hadir di Polsek Depok Barat pada Rabu.
Dia pun mengaku tidak tahu alasan kenapa namanya dipakai, sebab selama ini dia tidak memiliki teman maupun kerabat yang sedang hamil. Terlebih, selama tiga bulan terakhir, Meisya menyatakan bahwa dia juga sudah tidak tinggal lagi di Tepus, Gunungkidul karena sudah menempati Rusunawa Dabag, Condongcatur bersama suaminya.
Meisya mengatakan pihaknya merasa sangat dirugikan atas peristiwa pencatutan nama ini. Ia berharap ke depannya di era media sosial ini segala sesuatu harus dikonfirmasi terlebih dahulu sehingga tidak terjadi kejadian serupa.
Kapolsek Depok Barat, Kompol Rachmadiwanto menyampaikan saat ini pihaknya tengah melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Jajarannya tengah mengumpulkan keterangan dari para saksi guna mencari keberadaan orang tua bayi.
"Kami tengah melakukan penyelidikan terkait ibu bayi tersebut, dari hasil lidik sementara ternyata Ibu Meisya bukan merupakan ibu dari bayi yang ditinggal ini, namun identitasnya dipakai oknum tidak bertanggung jawab agar bisa dibantu melahirkan di bidan tersebut," ujar dia.
Ia menambahkan secara hukum pelaku diberatkan atas dua kasus, yaitu penelantaran bayi dan pencatutan nama orang lain. Namun, pihak kepolisian akan lebih fokus pada kasus penelantaran bayi terlebih dahulu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.
Tiga calon Sekda Sleman sudah dikantongi Bupati. Tinggal tunggu restu Sri Sultan sebelum pelantikan.